Resume Kapita Selekta

11:23:00 AM
Resume Kapita Selekta Pendidikan
Agama Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu kepada kedua fenomena perkembangan yaitu :
1.      Potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.
2.      Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah di bumi yang dinamis dan kreatif serta responsive terhadap lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang alamiah maupun ijtimaiah, dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.
Bila pendidikan Islam telah menjadi ilm yang ilmiah dan alamiah, maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan Islam diartikulasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini, proses kependidikan Islam yang telah mengacu dalam masyarakat yang beraneka rag
Dalam kultur dan struktur. Selama itu pula jasa-jasanya telah tampak mewarnai sikap dan kepribadian manusia yang tersentuh oleh dampak-dampak positif dan proses keberlangsungannya.


A.    PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI DAN MASA AKAN DATANG
1.      Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang memiliki cakupan luas yang berorientasi kepada ajaran agaman islam. Rumusan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam mempunyai cakupan yang sama luasnya dengan pendidikan umum bahkan melebihinya. Karena pendidikan Islam juga membina dan mengembangkan pendidikan agama, dimana titik beratnya terletak pada internalisasi nilai iman, islam, dan ihsan dlam pribadi manusia muslim yang berilmu pengetahuan luas.[1]
Dengan demikian, apa yang kita kenal dengan  Pendidikan Agama Islam di negeri kita merupakan bagian dari Pendidikan Islam. Tujuan utama dari pendidikan islam ialah membina dan mndasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama islam. Sehingga ia mampu mengamalkan syariat islam secara benar sesuai pengetahuan agama.
2.      Sistem Pendekatan dan Orientasi
Efektivitas dan efisiensi pendidikan islam menuntut kita untuk menerapkan berbagai rekayasa dan rekadaya yang didasari oleh ilmu pengetahuan teoritis dan praktis sesuai dengan sasaran yang digarap.
Pendidikan masa kini dihadapkan kepada tantangan yang jauh lebih berat dari tantangan yang dihadapi pada masa permulaan penyebaran Islam. Tantangan tersebut berupa timbulnya aspirasi dan idealitas umat manusia yang serba multiinteres yang berdimensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang multikompleks pula. Tugas pendidikan Islam dalam proses pencapaian tujuannya tidak lagi menghadapi problema kehidupan yang simplisistis, melainkan sangat kompleks. Akibat permintaan yang bertambah maka manusia semakin kompleks pula, hidup kejiwaannya semakin tidak mudah jiwa manusia itu diberi napas agama.
3.      Pelembagaan Proses Kependidikan Islam
Kelembagaan pendidikan islam merupakan subsistem dari sistem masyarakat atau bangsa. Dalam operasionalisasinya selalu mengacu dan tanggap kepada kebutuhan perkembangan masyarakat. Tanpa sikap demikian, lembaga pendidikan kita dapat menimbulkan kesenjangan sosial dan cultural. Kesenjangan inilah yang menjadi salah satu sumber konflik antara pendidikan masyarakat. Darisanalah timbul krisis pendidikan yang intensitasnya berbeda-beda menurut tingkat atau taraf masyarakatnya.
4.      Pengaruh Sains dan teknologi Canggih
Sebagaiman kita ketahui bahwa dampak positif dari kemajuaan teknologi sampai kini bersifat pasilitatif( memudahkan ). Teknologi menaarkan berbagai macam kesantaian dan kesenangan yang semakin luas memasuki ruang dan celah-celah kehidupan kita yang gelap pun dapat dipenitrasi. Dampak negative nya sendiri sudah mulai menampakan dirinya di depan mata kita,pada dasarnya tehnologi melemahkan mental dan spiritual serta jiwa yang sedang berkembang dalam berbagai bentuk penampilan. Tidak hanya itu nafsu juga di perlemah oleh ransangan tehnologi elektronik dan informatika,juga ikut melemah kan fungsi kejiwaan lainnya. Permasalahan yang harus di pecahkan oleh pendidikan islam khususnya adalah dehumanisasi pendidikan, netralisasi atau nilai-nilai agama.
5.      Perencanaan dan model-model pendidikan islam
Pendidikan serta kelembagaan nya sering mengalami inovasi dan peka terhadap perubahan sosial. Perencanaan pendidikan sendiri harus di mulai dari identifikasa kebutuhan, yaitu perkembangan anak didik seirama dengan perkembangan masyarakat.
Kebutuhan pendidikan biasanya di ukur dari   adanya kesenjangan antara das sein dengan das sollen dari hasil yang di capai dengan hasil yang harus di capai. Menurut beberapa ilmuan bidang pendidikan menurut Roger A. kaufman,untuk meng analisis hasil yang ada dengan hasil yang seharusnya ada,
Dengan demikian dapat di ketahui tingkat kebutuhan pendidikan 
( seperti ilmu pengetahuan,sikap,dan keterampilan ) anak didik.

B.     PRINSIP-PRINSIP PENIDIKAN ISLAM SEBAGAI DISIPLIN ILMU
Sebagai mana kita ketahui bahwa sumber disiplin ilmu pendidikan agama islam berasal dari kitab suci Alquran dan sunah para rasul.
Pendidikan islam bertugas pokok mengilmiahkan wawasan atau pandangan yang terdapat dalam sumber-sumber pokok dengan bantuan dari para sahabat dan ulama atau ilmuan muslim. Dalam beberapa pokok itu terdapat bahan-bahan fundamental terdapat nilai kependidikan atau implikasi-implikasi kependidikan yang masih berserakan. Untuk itu suatu ilmu pendidikan islam perlu disistematiskan sesuai dengan kaidah yang dtetapkan oleh dunia pengetahuan.
Ilmu pengetahuan pndidikan islam pada khususnya tersusun dari konsep-konsep dan teori-teori ang disistematiskan menjadi suatu kebulatan yang terdri dari beberapa komponen-komponen yang satu sama lain saling berkaitan. [2]
Teori tersebut dijadikan pedoman untuk melaksanakan proses kependidikan islam itu. Antara teori dan proses operasionalisasi saling terkait, yaitu satu sama lain saling menunjang bahkan saling memperkokoh.
Ada tiga komponen dasar yang harus di bahas dalam teori pendidikan islamyang pada gilirannya dapat dibuktikan validitasnya dalam operasionalisasi diantaranya:
1.      Tujuaan pendidikan islam harus dirumuskan dan ditetapkan secara jelas dan sama bagi seluruh umat islam sehingga bersifat universal. Tujuan pendidikan islam adalah yang asasi karena ia sebegitu jauh menentukan corak metode dan materi pendidikan islam. Tujuan pendidikan islam yang universal itu telah dirumuskan dalam Seminar  Pendidikan Islam s Dunia di Islamabad pada tahun 1980 dimana rumusannya telah ada di dalam ayat al-Qur’an  yang artinya “Sesungguhnya salatku, ibadahku, kehidupanku, matiku adalah bagi Tuhan semesta alam”[3]
2.      Metode pendidikan Islam yang kita ciptakan harus berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan islam itu. Dimana metode yang dipakai dalam proses kependidikan Islam bertumpu pada paedosentrisme, dimana kemampuan fitrah manusia dijadikan pusat proses kependidikan.
3.      Irama gerak yang harmonis antara metode dan tujuan pendidikan dalam proses akan mengalami vakum bila anpa kehadiran nilai atau ide.
Pendidikan Islam pada saat ini masih berada pada garis marjinal masyarakat, belum memegang peran sentral  dalam proses pembudayaan umat manusia dalam arti sepenuhnya. Untuk itu ilmu pendidikan islam yang menjadi pedoman operasionalisasi pendidikan islam perlu dikembangkan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam dunia akademik, yaitu sebagai berikut:
1.      Memiliki objek pembahasan yang jelas dank has pendidikan yang islami meskipun memerlukan ilmu penunjang dari yang non islami.
2.      Memiliki wawasan , pandangan, dan asumsi, hipotesis serta teori dalam lingkup kependidikan yang islami yang bersumberkan ajaran islam.
3.      Memiliki metode analisis yang relevan dengan kebutuhan perkembangan ilmu kependidikan yang islami yang berdasarkan islam, beserta sistem pendekatan yang seirama dengan corak keislaman sebagai kultur dan revilasi.
4.      Memiliki struktur keilmuan  yang sistematis yang mengandung totalitas yang tersusun dari komponen-komponen yang saling mengembangkan satu sama lain dan menunjukan kemandiriannya sebagai ilmu yang bulat.
Oleh karena itu, suatu ilmu yang ilmiah harus bertumpu pada adanya teori-teori, maka teori-teori pendidikan islam juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.      Teori harus menetapkan adanya hubungan antara fakta yang ada.
2.      Teori harus mengembangkan sistem klasifikasi dan struktur dari konsep-konsep, karena alam kita tidak menyediakan sistem siap pakai untuk itu.
3.      Teori harus mengikhtisarkan sebagai fakta, kejadian-kejadian oleh karenanya maka sebuah teori harus dapat menjelaskan sejumlh besar fakta.
4.      Teori harus dapat meramalkan fakta atau kejadian-kejadian karena tugas sebuah teori adalah meramalkan kejaian-kejadian yang belum terjadi.
Yang menjadi permasalahan urgen bagi ilmu pendidikan islam yaitu sebagai berikut:
1.      Bagaimana seharusnya pendidikan Islam dapat menjawab tantangan kebutuhan kependidikan generasi muda bagi kehidupannya di masa depan secara sistematis berencana, mengingat cirri khas agama Islam adalah bersifat aspiratif dan kondusif kepada kebutuhan hidup sesuai dengan fitrahnya.
2.      Bagaimana agar pendidikan Islam mampu mendasari kehidupan generasi muda dengan iman dan takwa dan berilmu pengetahuan tersebut sejalan dengan tuntutan Al-Qur’an.
3.      Bagaimana pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu dapat melestarikan dan memajukan tradisi dan budaya moral yang dalam komunikasi sosial dan interpersonal dalam masyarakat yang semakin industrial teknologis.
4.      Bagaimana agar pendidikan Islam tetap mampu berkembang dalam jalur input invironmental di lembaga pendidikan dalam proses pencapaian tujuan akhirnya, baik dalam upaya membentuk pribadi, maupun anggota masyarakat dan warga Negara yang berkualitas baik.
Semboyan yang menjadi etos kerja kita antara lain adalah firman Allah yang megatakan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu umat, sehingga mereka sendiri mengubahnya”. [4]

C.    MODEL-MODEL PENDIDIKAN ISLAM DAN ORIENTASINYA
Orienasi dasar pendidikan Islam, yang diletakan oleh Rasulullah pada awal risalahnya ialah menumbuhkembangkan sistem kehidupan sosial yang penuh kebijakan dan kemakmuran ( dengan amal saleh ), memeratakan kehidupan ekonomi  yang berkeadilan sosial berpolakan
dunia dan akhirat yang berumpu pada nilai-nilai moral yang tinggi dan berorientasi kepada kebutuhan pendidikan yang mengembangkan daya kreativitas an pola pikir intelektual bagi terbinanya tekno sosial yang berkeadilan dan berkemakmuran. Itulah suatu model pendidikan islam yang berorientasi perspektif ke masa depan merupakan jawaban yang tepat guna.
Model-model pendidikan yang terbukti tidak memuaskan tuntutan umat terlihat pada praksisnya sebagai berikut:
1.      Model pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola piker bahwa nilai-nilai lama yang konservatif dan asketis harus dilestarikan dalam sosok pribadi muslim yang resistan terhadap pukulan gelombang zaman, merupakan ciri utama pendidikan esensialistik. Orientasi demikiansudah tentu kurang dapat diandalkan oleh umat untuk menjawab tantangan zaman.
2.      Jika pendidikan Islam berorientasi kepada pola pikir nbahwa nilai-nilai islami yang mengandung potensi mengubah nasib masa lampau ke masa kini yang dijadikan inti kurikulum pendidikan, maka model pendidikan Islam menjadi bercorak perenialistik, dimana nilai-nilai yang terbuki tahan lama saja yang didinternalisasikan ke dalam pribadi anak didik. Sedangkan nilai-nilai yang potensial bagi semangat pembruan ditinggalkan.
3.      Bila pendidikan Islam hanya lebih berorientasi pada personalisasi kebutuhan pendidikan dalam segala aspeknya, maka ia bercorak individualistis, di mana potensi yang bersifat mengubah dan membangun masyarakat dan alam sekitar kurang mengacu kepada kebutuhan sosiokultural.
4.      Jika pendidikan Islam berorientasi kepada masa dean sosio, masa depan tekno, dan masa depan bio, di mana ilmu dan teknologi menjadi pelaku peubahan dan pembaruan kehidupan sosial, maka pendidikan Islam yang bercorak teknologis, di mana nilai-nilai samawi ditinggalkan diganti dengan nilai-nilai pragmatik relivistik cultural.
5.      Akan tetapi, jika pendidikan Islam yang berorientasi kepada perkembangan masyarakat berdasarkan proses dialogis di mana manusia ditempatkan kepada Geiger

D.    KRISIS PENDIDIKAN ISLAM
Beberapa ahli perencanaan kependidikan masa depan telah mengidentifikasikan krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi masyarakat masa kini, dapat pula dijadikan wawasan perubahan sistem pendidikan Islam, yang mencakup fenomena-fenmena antara lain sebagai berikut:
1.      Krisis Nilai-nilai[5]
Krisis nilai berkaitan dengan masalah sikap menilai sesuatu perbuatan tentang baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah, dan hal-hal lain yang menyangkut perilaku etis individual dan sosial. Sikap penilaian yang dahulu ditetapkan sebagai “benar, baik, sopan, atau salah, buruk, yak sopan” mengalami perubahan drastic menjadi ditoleransi, sekurang-kurangnya tak diacuhkan orang.
2.      Krisis konsep tentang kesepakatn arti hidup yang baik
Masyarakat mulai mengubah pandangan tentang cara hidup bermasyarakat yang baik dalam bidang ekonomi, politik, kemasyarakatan dan implikasinya terhadap kehidupan individual. Dimana nilai-nilai apa yang dijadikan ukuran menjadi kabur.
3.      Adanya kesenjangan kredibilitas
Dalam masyarakat manusia saat ini dirasakan adanya erosi kepercayaan di kalangan kelompok penguasa dan penanggung jawab sosial. Di kalangan orang tua , guru, pengkhutbah agama di mimbar rumah ibadah, penegak hukum, dan sebagainya mengalami keguncangan wibawa, mulai diremehkan orang yang mestinya menaati atau mengikuti petuah-petuahnya.
4.      Beban institusi sekolah kita terlalu besar melebihi kemampuannya
5.      Kurangnya sikap idealisme dan citra remaja kita tentang peranannya di masa depan bangsa
6.      Kurang sensitive terhadap kelangsungan masa depan
7.      Kurangnya relevansi program pendidikan di sekolah dengan kebutuhan pembangunan
8.      Adanya tendensi dalam pemanfaatan secara naïf kekuatan teknologi canggih
9.      Masih membesarnya kesenjangan di antara kaya dan miskin
10.  Ledakan pertumbuhan penduduk
11.  Makin bergesernya sikap manusia kearah pragmatisme yang pada gilirannya membawa kea rah matrealisme dan individualism
12.  Makin menyusutnya jumlah ulama tradisional dan kualitasnya
E.     STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN AGAMA ( ISLAM ) DALAM UPAYA MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN IPTEK
Strategi pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernisasi berkat kemajuan iptek itu mencakup ruang lingkup sebagai berikut:
1.      Motivasi kreatifitas anak didik ke arah pengembangan iptek itu sendiri, di mana nilai-nilai Islami menjadi sumber acuannya.
2.      Mendidik keterampilan memanfaatkan produk iptek bagi kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya.
3.      Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan iptek, dan hubungannya yang akrab dengan para ilmuan yang memegang otoritas iptek dalam bidang masing-masing.
4.      Menanamkan sikap dan wawasan yang luas  terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui kemampuan menginterprestasikan ajaran agama dari sumber-sumbernya yang murni kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.
Firman Allah berikut ini mengajak ke arah sikap ketajaman wawasan yaitu “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri manusia memperhatikan hal-hal apa yang hendak dilaksanakan bagi hari esok. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[6]

F.     PENDEKATAN KULTURAL EDUKATIF TERHADAP AGAMA DAN PERKEMBANGAN SOSIAL BUDAYA
Dalam kehidupan cultural manusia, agama dapat dibedakan menjadi dua macam aspek, yaitu:
1.      Agama sebagaimana yang tercermin dalam doktrin atau ajaran
2.      Agama yang telah mempribadi dalam sikap dan pendirian manusia
Kedua aspek tersebut merupakan suatu referensi potensial yang saling beresonansi dalam proses enkulturasi yang berlangsung secara interaktif antara potensi subjektif dengan potensi objektif.

G.    PENDEKATAN AGAMA, SARANA, FASILITAS DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Dasar pemikirannya diantaranya sebagai berikut:
1.      Modal rohaniah dan mental, yaitu kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan enaga penggerak yang tak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi-aspirasi bangsa.
2.      Pendidikan agama sebagai salah satu aspek dasar daripada pendidikan nasional Indonesia harus mampu memberikan makna dari hakikat pembangunan nasional.
3.      Meskipun pendidikan agama tidak termasuk pola dasar pembangunan nasional sebagai salah satu komponen strategis dalam pembinaan watak bangsa Indonesia.
4.      Sejalan dengan tujuan pendidikan Indonesia yang telah ditetapkan.
Tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Memperdalam rasa cinta tanah air, mempertebal semangat kebangsaan, dan rasa kesetiakawanan sosial.
Posisi pendidikan agama sebagai proses budaya untuk meninkatkan harkat dan martabat serta kualitas hidup manusia berlangsung secara integralistik mendasari bidang-bidang studi lainnya, sehingga seluruh proses pendidikan di sekolah itu berlangsung secara terpadu sebagai satu sistem yang bulat. Untuk pencapaian tujuan tersebut diperlukan kerja sama antara guru dan terbentuknya satu tekad dan langkah. Materi atau substansi pendidikan agama perlu dikaji ulang untuk disesuaikan dengan tujuan tersebut. Memilih dan menggunakan metode yang tepat disamping daya tangkap dan tanggap murid dengan memperhitungkan masa peka dari tingkat hidup kejiwaannya. Pelaksanaan pendidikan agama dan penggunaan metode perlu disediakan fasilitas yang lengkap. Fasilitas peraturan perundang-undangan sampai dengan fasilitas yang bersifat fisik seperti buku-buku pelajaran beserta penunjangnya.

H.    BAHAN-BAHAN PEMIKIRAN TENTANG METODE PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI
Landasan yuridis formal pelaksanaan pelajaran agama islam di sekolah-sekolah sampai dengan di perguruan tinggi kita sudah tidak  menjadi persoalan lagi. Karena telah dijadikan mata pelajaran wajib sejak tahun 1966.
Masih menjadi problema ialah bagaimana melaksanakannya seefektif mungkin. Sehingga program tersebut dapat memperoleh sukses. Istilah lain kita masihdihadapkan kepada persoalan metode dan persoalan ini bukan suatu hal yang gampang dipecahkan karena menyangkut beberapa faktor. Diantaranya sebagai berikut:
1.      Tujuan/ cita-cita; alat-alat yang membantu pelaksanaan baik moril maupun materiil pendidikannya.
a.       Tujuan  pendidikan agama ataukah pengajaran agama? Katakanlah misalnya dirumuskan sebagai berikut: “ Membimbing ke arah terbentuknya sarjana Indonesia yang berjiwa Islam dan yang bertakwa kepada Allah SWT dengan beriman teguh, beramal saleh, dan mndedikasikan  keahlian kepada masyarakat”.


b.      Alat-alatnya
Di sini menyangkut persoalan kurikulum serta penyajiannya,dan menyangkut juga alat-alat material ( kalau ada ) seperti audiovisual, publikasi-publikasi, kepustakaan, metode-metode yang dapat digunakan, dan sebagainya. Apakah  kurikulum dasar yang telah di tetapkan oleh seminar pendidikan agama islam di perguruan tinggi 1963 di Yogya, yang di aktif-kan pada tahun 1965 di Jakarta yang sudah memadai atau masih di anggap valid
c.       Pendidikan dosen agama islam
Faktor inilah yang memeagang central cour  ( intinya ) pelajaran agama islam di perguruan tinggi. Bagai mana pun dosen yang mengajar di perguruan tinggi harus sarjana dari perguruan tinggi. Namun permasalahan nya apakah dosen itu, apakah dosen tersebut harus sarjana agama islam atau sarjana umum yang beragama islam? Bilamana keduanya dapat di pandang qualified sudah tentu harus mendapatkan upgrading dalam pengetahuan-pengetahuan yang di perlukan.
d.      Anak didik atau mahasiswa
Sikap-sikap apakah yang seharusnya dibangkitkan dan di bina dalam pendidikan agama ini. Sudah tentu sika ilmiah mahasiswa yang harus tetap di pelihara dengan  di lakukan pendekatan ilmiah yang sesuai dngan norma-norma yang berlaku di perguruan tinggi
tersebut dengan memperhatikan permasalahan-permasalahn sebagai berikut.
1)      Persoalan yang menyangkut kehidupan mahasiswa yang bersifat sosial ekonomi, seksualitas, belajar pada fakultas yang bersangkutan, soal kebudayaan serta problem-problem kehidupan individu lainnya.
2)      Sikap ilmiah disejalankan  dengan sikap keagamaan mahasiwa atau sebaliknya. Agama dan ilmu pengetahuan sebenarnya tidak pelu berlawanan .
e.       Sekitar atau lingkungan
Lingkungan perguruan tinggi brada harus juga di jadikan perhatian pendidik yang bersangkutan dalam arti linhkungan sosial kulturalnya.

·         Indentifikasi problem utama yang dihadapi pendidikan Islam[7]
1.      Lack of vision
Menurut Ismail Raji al Faruqi tak ada upaya menuntut ilmu tanpa spirit, dimana spirit ini sendiri tentu tidak bisa di-copy, melainkan dinyatakan dalam sebuah visi diri, dunia dan realitas, yang secara ringkas dimotivasi oleh agama.

2.      Kesalehan individual dan ketertinggalan teknologi
Kategori ibadah ghairu makhdah yang cakupannya lebih luas semisal solidaritas sosial, etika politik, kewajiban menuntut ilmu, masalah pergaulan, kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar, kerjasama antar bangsa, pengembangan sumber daya manusia, dan lain-lain kurang mendapat perhatian.
Penyempitan makna beribadah menimbulkan dampak yang besar atas sikap mereka terhadap sain dan teknologi. seolah-olah sains dan teknologi tidak ada kaitannya dengan kesalehan dan ketakwaan. Padahal justru di bidang sain dan teknologi inilah umat Islam saat ini jauh tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain.
3.      Dikotomi ilmu
Adanya pemahaman bahwa menuntut ilmu agama itu tergolong fardu ain dan ilmu-ilmu non agama fardhu kifayah. Maka menimbulkan banyaknya umat yang mempelajarai agama sebagai suatu kewajiban seraya mengabaikan petingnya ilmu-ilmu non agama.
4.      Tradisi berpikir normatif-deduktif
Praktek pendidikan lebih menekankan aspek kognitif semata. Siswa hanya belajar tentang materi pengetahuan tertentu melalui transfer of knowledge dari orang yang dpandag lebih tahu, yakni guru.
Pesantren: ketahanan sebuah lembaga pendidikan Islam
·         Pesantren sebagai “ learning community”
Santri (sebutan untuk warga yang menuntut ilmu) hidup, belajar, beribadah dan bekerja di bawah bimbingan kiai dan dibawah perlindungannya. Dalam perkembangannya, learning community ini juga mengenal tataran-tataran belajar, juga spesialis keilmuan, sebagaimana layaknya pendidikan di masa kini pada umumnya. Kiai adalah pemimpin sekaligus pemilik pesantren. ia memimpin dan mengarahkan pendidikan di pesantren berdasarkan pandangan atau pun pandangan yang diwarisi dari pandangan pendahulunya.
·         Ciri pendidikan pesantren
a.       Terjalinnya hubungan yang akrab dan familiar antara kiai dengan santri
b.      Kepatuhan santri kepada kiainya
c.       Kehidupan relatif sederhana
d.      Semangat mandiri
e.       Disiplin yang terjaga
f.       Saling membantu
g.      Meneladani kehidupan kiai, khususnya ruhaniahnya.

·         Fungsi pesantren
1.      Melakukan transfer/transmisi ilmu-ilmu keislamanan
2.      Memeliharaan tradiri Islam
3.      Menjaga fungsi reproduksi ulama (Azyumardi Azra)
Tanggung jawab intelektual Muslim
Ulil albab sebagai istilah yang digunakan al Qur’an untuk intelektual Muslim. Menurut Dr.Muhammad Hijazi ada 8 sifat ulul albab dalam surah ar Rad:20-24. Kaitan ayat tersebut dengan sifat intelek muslim.
1.      Kewajiban
Yaitu memenuhi janji Allah dan menyambung apa yang Allah perintahkan untuk menyambungnya. Perjanjian Allah disebut mitsuq. Dalam hal ini intelektual Muslim berfungsi sebagai integrator, katalis, pemersatu dan muwahid
2.      Akhlak
Seorang intelektual Muslim harus mempertanggung jawabkan apa yang ia kerjakan di dunia ini: ia takut pada perhitungan yang jelek, teguh, penuh komitmen, tabah, ikhlas karena Allah.
3.      Metode
Cara utama untuk menerapkan nilai-nilai Islam adalah membentuk tempat shalat, mengisinya dengan program-program keislaman dan menjadikannya sebagai jantung Islamisasi. Kedua dengan menggalakkan infak. Ketiga menolak jelek dengan kebaikan.













REFERENSI
Muzzayin Arifin.2008.Kapita Selekta Pendidikan Islam.PT. Bumi
Aksara:Jakarta
Hamzah B Uno. 2006. Perencanaan Pembelajaran. PT. Bumi Aksara: Jakarta     
Spupe07.wordpress.com/2011/10/16/resume-mata-kuliah-kapita-selekta-pendidikan/



[1] Prof. H Muzzayin Arifin,M. Ed, Kapita Selekta Pendidikan Islam, 2008, PT Bumi Aksara, Jakarta, hlm.5
[2] Ibid hlm 16
[3] Q.S Al-An’am: 162
[4] . QS. Ar-Ra’du:11
[5] Ibid hlm 38
[6] Q.S Al-Hasyr:18
[7] Spupe07.wordpress.com/2011/10/16/resume-mata-kuliah-kapita-selekta-pendidikan/

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔