Makalah Filsafat Pendidikan

11:20:00 AM
Oval: PEMBAHASAN A
FILSAFAT YUNANI
Kepercayaan bangsa Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM menganut kepercayaan bahwa kebenaran hanya bersumber pada dongeng-dongeng, bukan lewat akal pikir. Kemudian pada abad ini muncul sejumlah pemikir yang mentang adanay mitos. Yang menginginkan pertanyan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima oleh akalà Demitologi. Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini menyebabkan banyak orang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni. Berikut tiga Faktor yang menjadi ladasan Filsafat Yunani lahir :
1.             Bangsa Yunani yang kaya akan mitos, mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Kemudian mitos tersebut disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional.
2.             Karya sastra Yunani yang dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, yang banyak menjadi pedoman bagi orang-orang Yunani yang didalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.
3.             Pengaruh ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylon (Mesir) di Lembah  Sungai Nil.
Dengan adanya tiga faktor ini, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.
A.           Yuanani Kuno
Periode Yunani Kuno ini lazim disebut periode filsafat alam, dikarenakan muculnya para ahli pikir alam, dimana arah dan perhatian pemikirnya kepada apa yang diamati di sekitarnya.
Para pemikir filsafat Yunani yang pertama berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir Asia Kacil.

1.             Thales (625-545 SM).
Nama Thales muncul atas penuturan sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM. Aristoteles memberikan gelar The Father of Philosophy, juga menjadi penasihat teknis ke-12 kota Ionia. Salah satu jasa besarnya adalah meramalkan gerhana Matahari pada tahun 585 SM. Thales mengatakan bahwa komposisi alam semesta ini berasal dari air sebagai materim kosmis. Dalam sejarah matematika, Thales dianggap sebagai pelopor geometri abstrakyang didasarkan kepada petunjuk pengukur banjir.[1]
2.             Anaximandros (640-546 SM).
Orang pertama yang mengarang suatu traktat dalam kesusastraan Yunani. Berjasa dalam bidang astronomi, geografi. Orang pertama yang membuatn Peta Bumi. Menurut Anaximandros, alam ini unsur yang udara. Pendapatnya, Bumi ini berbentuk silinder, lebarnya tiga kali lebih besar dari pada tingginya.
3.             Pythagoras ( +572 – 497 SM)
Lahir di pulau Samos, Ionia. Menurut Aristoxenos, murid dari Aristoteles, Pythagoras pindah ke kota Kroton, Italia Selatan karena tidak setuju dengan pemerintah Polykrates yang bersifat tirani. Substansi dari semua benda adalah bilangan, dan segala gejala alam merupakan pengungkapan indrawi dari perbandingan-perbandingan matematis. Setiap tentang bilangan dasar dri 1 sampai 10 mempunyai kekuatan dan arti sendiri-sendiri. Satu adalah asal mula segala sesuatu sepuluh, dan sepuluh adalah bilangan sempurna. Alam semesta merupakan satu kesatuan yangt teratur dan harmonis seperti music. Keharmonisan akan tercapai dengan nmenggabungkan hal-hal yang berlawanan ;Terbatas – tak terbatas. Ganjil – genap. Satu – banyak. Laki-laki – perempuan.
Kearifan hanya dimiliki oleh Tuhan, makanya ia tidak mau disebut sabagai orang arif seperti Thales, akan tetpi menyebut dirinya senagai ­philosophos, pencipta kearifan.
4.             Xenophanes (570 - ? SM).
Lahir do Xolophon, Asia Kecil. Umur 25 tahun mengembara ke Yunani. Membantah adanya antropomorfisme Tuhan-Tuhan, yaitu Tuhan di gambarkan sebagai manusia. Membantah bahwa Tuhan bersifat kekal dan tidak mempunyai permulaan.
5.             Heraclitos (535 – 475 SM).
Lahir di Ephesus, kota perantauan di Asia kecil, kawan dari Pythagoras dan Xenophanes. Pemikiran filsafatnya yang terkenal adalah filsafat menjadi. Ucapannya yang terkenal adalah segala sesuatunya mengalir bagaikan arus sungai dan tidak satu orang pun yang dapat masuk ke sungai yang sama dua kali. Pengathuan yang sejati adalah pengatahuan yang selalu berubah-ubah. Realitas merupaka sesuatu yang khusus, jumlahnya banyak san bersifat dinamis. Setiap benda terdiri dari hal-hal yang sifatnya berlawanan atau bertentangan. Yang satu adalah banyak, dan yang banyak adalah satu. Asas yang pertama dari alam semesta ini adalah api.[2]
6.             Parmenides (540 – 475 SM).
Lahir di kota Elea, kota perntauan Yunani di Italia Selatan. Orang pertama yang memikirkan hakekat tentang ada (being). Realitas adalah gerak dan perubahan Mengenai Hakikat yang Ada (being).
Yang ada itu ada, yang ada tidak dapat hilang menjadi tidak ada. Yang tidak ada tidak mungkin menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada. Sehingga yang tidak ada tidak dapat dipikirkan, dan yang dapat dipikirkan hanya yang ada saja. Yang ada itu satu, umum, tetap dan tidak dapat dibagi-bagi karena membagi yang ada akan menimbulkan atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin. Tidak ada kekuatan yang dapat menandingi yang ada, yang tidak dapat lagi ditambah dan tidak dapat pula dikurangi. Dalam hal ini, Parmenides menganggap yang ada itu adalah Tuhan yang Maha Sempurna.
7.             Zeno ( + 490 – 430 SM).
Lahir di Elea, murid dari Parmenides. Menurut Aristoteles, Zeno merupakan orang yang menemukan dialektika (Hipotesis). Contoh Hipotesis yang digunakan oleh Zeno dalam mengemukakan hipotesis terhadap lawan gerak ; Achiles si jago lari termasyhur dalam mitologi Yunani tidak dapat menang melawan kura-kura. Karena kura-kura berangkat sebelum Achiles, sehingga Achiles lebih dahulu harus melewati atau mencapai titik dimana kura-kura berada saat ia berangkat. Setelah Achiles berada di suatu titik, kura-kura tersebut sudah lebih jauh lagi, dan seterusnya sehingga jarak antara Achiles dan kura-kura selalu berkurang, tetapi tidak pernah habis.
Argumentasi Zeno selama 20 Adab tidak terpecahkan orang secara logis. Baru dapat dipecahkan setelah para ahli matematika membuat pengertuan limit dari seri tak terhingga.
8.             Empedocles (490 – 435 SM).
Lahir di Akragos, pulau Sicilia. Alam semesta ini di dalamnya tidak ada yang di lahirkan secara baru, dan tidak ada yang hilang. Realitas teusunoleh empat unsur, yaitu Api, Udara, Tanah dan Air, kemudian digabungkan. Dari penggabungan itu menghasilkan suatu benda dengan kekuatan yang sama, tidak berubah, walaupun dari komposisi yang berbeda. Ada dua unsur yang mengatur alam semesta ni, yaiu Cinta dan Benci. Cinta mengatur ke arah penggabungan, sedangkan Banci mengatur ke arah perceraian. Dari semua hal yang dikemukakan oleh Empedocles, ia juga mengemukakan teori pengenalan bahwa yang sama mengenal yang sama.
9.             Anaxagoras ( +499 – 420 SM).
Lahir di kota Klazomenai, Ionia, yang kemudian menetap di Athena selama 30 tahun.Pemikirannya, realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur dan tidak dapat dibagi-bagi lagi, yaitu atom.
10.         Democritos (460 – 370 SM).
Lahir di Kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Realitas bukalah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur dan jumlahnya tak terhingga. Unsur tersebut yaitu atom. Karena atom memiliki tiga hal yaitu, bentuk, urutan dan posisinya, maka atom-atom tersebut tidak dapat dimusnahkan, tidak berubah dan tidak berkualitas. Menurut Democritos, realitas itu ada dua, yaitu atom itu sendiri dan ruang kosong tempat atom bergerak.

B.            Yunani Klasik.
Pada masa Yunani Klasik ini, filsafat berkembang sangat pesat dengan ditandai semakin besar minat orang terhadap filsafat. Aliran yang mengawali periode Yunani Klasik ini adalah kaum Sofisme. Kaum Sofis dengan Socrates memiliki hubungan yang sangat erat sekali. Sehingga menurut Aristoteles, Socrates termasuk kaum Sofis. Yang membedakannya hanya terletak pada pemikiran Socrates yang merupakan suatu kritik dan reaksi terhadap pemikiran kaum Sofis.[3]

  1. Kaum Sofisme
Sofis merupakan suatu gerakan dalam bidang intelektual yang disebabkan oleh pengaruh kepesatan minat orang terhadap filsafat. Istilah sofis mempunyai arti sarjana atau cendikiawan. Di kemudian hari sofis memiliki arti yag kurang baik, karena sofis diartikan sebagai orang yang pekerjaannya menipu dan omongan besar. Ada tiga faktor yang mendorong timbulnya kaum Sofis, yaitu :
a.    Perkembangan secara pesat kota Athena dalam bidang politik dan ekonomi.
b.    Setelah kota Athena mengaalami keramaian penduduknya yang bertepat tinggal, maka kebutuhan dalam bidang pendidikan tidak terelakkan lagi karena desakkan kau intelektual. Terlebih lagi kota Athena sebagai pusat politik sehingga peranan pendidikan sangat penting untuk mendidik kaum mudanya.
c.    Karena pemukiman perkotaan bangsa Yuanani biasanya terletak dipantai, kontak dan pergaulan dengan bangsa lain tidak dapat dihindari lagi.
Salah satu tokoh kaum Sofis adalah sebagai berialkut :
a.      Gorgias dan Protagoras(480-380 SM).
Lahir di Leontinoi. Menurutnya, pendapat yang penting adalah bagaimana dapat meyakinkan orang lain agar menerima pendapat kita
Pendapatnya yang penting adalah :
a.    Mencari keterangan tentang asal usul yang ada;
b.    Bagaimana peran manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehandak berpikir karena dengan kehendak berpikir itulah manusia mempunyai pengetahua yang nantinya akan menetukan sikap hidupnya;
c.    Norma yang sifatnya umum tidak ada, yahg ada norma yang sifatnya individualistis;
d.   Kebenaran tidak diketahui sehingga ia termasuk penganut Skeptisisme.
Ada yang menganggap aliran sofisme dapat merusak dunia filsafat. Aspek positif dari kaum sofis ini, yaitu mempengaruhi kebudayaan Yunani, yaitu suatu revolusi intelektual, dan mengangkat manusia sebagaiobjek pemikiran filsafat. Aspek negatifnya, mengahancurkan kebudayaan Yunani terutama nilai-nilai tradisional (agama dan moral) dihancurkan.
  1. Socrates (Filosofis)(469-399).
Anak dari seorang pemahat Sophroniscos, dan Ibunya bernama Phairnarete, yang pekerjaanya seorang bidan (keluara kaya). Socrates mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Socrates dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan Negara. Socrates dihukum mati dengan meminum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Berdialog dengan muridnya merupakan cara Socrates dalam mengajar muridnya. Pengatahuan sejati menurut Socrates adalah suatu unsur yang menghilangkan unsur yang berbeda, sehingga tinggal unsur yang sama yang bersifat umum. Seseorang yang memiliki pengetahuan sejati telah memiliki kesempurnaan sebagai manusia.
  1. Plato (Idealis ) (427-347 SM).
Plato merupakan pengikut Socrates yang paling taat diantara para pengiktnya. Lahir di Athena, dengan nama asli Aristocles. Pada usia 40 tahun, Plato berguru pada Pyrhagoras, dan sepulangnya itu Plato mendirikan sekolah Akademia yang diberi nama “Akademia”, karena kedekatannya dengan kuil Akademos seorang pahlawan Athena. Titik tolak pemikiran filsafatnya ; ia mencoba menyelesaikan permasalahan lama : mana yang benar yang berubah-ubah (Heraclitos) atau yang tetap (Parmenides).[4]

  1. Dunia Ide dan Dunia Pengalaman.
Menurutnya, manusia berada dalam dua dunia, dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah, tidak tetap, bermacam-macam, kemudian dunia ide yang bersifat tetap, hanya satu macam dan tidak berbah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide, sedangkan dunia ide merupakan dunia realitas yang sesungguhnya. Dengan ajarannya itu, Plato berhasil menjembatani pertentangan perndapat antara Heraclitos dan Parmenides. Menurut Plato, pemikiran Heraclitos itu benar tetapi hanya berlaku pada dunia pengalaman, juga dengan pemikiran Parmenides itu juga benar tetapi hanya berlaku pada dunia ide. Plato selangkah lebih maju pemikirannya dari pada Socrates (gurunya), bila Socrates mengatakan bahwa sesuatu yang umum itu realitas kenyataan, maka Plato berpendapat bhawa hakekat suatu realitas itu bukan “yang Umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan dan terpisah dari sesuatu yang konkrit yaitu ide.
Pemikiran tentang Tuhan, Plato mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi manusia yang tidak pantas apabila tidak mengetahuinya, yaitu ;
a.    Manusia itu mempunyai Tuhan sebagai pencipta.
b.    Tuhan itu mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia.
c.    Tuhan hanya bisa diketahui dengan cara yang negative, tidak ada ayat, tidak ada anak dan lainnya.
d.   Tuhanlah yang menjadikan alam inidari tidak mempunyai peraturan menjadi mempunyai peraturan.
Konsepnya tentang etika sama seperti Socrates, yaitu bahwa tujuan hidup manusia adalah hidup yang baik.Menurut Plato, di dalam Negara yang ideal terdapat tiga golongan berikut :
a.    Golongan yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah.
b.    Golongan pembantu, terdiri dari para prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan Negara dan menjaga ketaatan para warganya.
c.    Golongan Rakyat biasa, terdiri dari petani, pedagang, tukangm yang bertugas untuk memikul ekonomi Negara.
Tugas negarawan adalah mencipta keselarasan antara emua keahlian dalam Negara sehingga mewujudkan keseluruhan yang harmonis.

  1. Aristoteles (384-322 SM).
Lahir di Stageria, Yunani Utara pada tahun 384 S, Ayahnya seorang dokter pribadi di Raja Macedonia Amyntas.Pada usia 17 tahun, Aristoteles dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato selama kira-kira selama 20 tahun hingga Plato Meninggal. Di Akdemia, Aristoteles mengajar logika dan retorika. Setelah Plato meninggal, Aristoteles meninggalkan Athen bersama dengan rekan-rekannya, Karen ia tidak setuju dengan pengganti Plato di Akademia tentang filsafat. Setelah tiba di Assos, ia dengan rekannya mengajar di Assos. Disini Aristotele menikah dengan Pythias. Pada tahun 345 SM kota Assos diserang oleh tentara Parsi, Rajanya (rekan Aristoteles) dibunuh, kemudianAristoteles dengan kawannya melarikan diri ke Mttilene di pulau Lesbos tidak jauh dari Assos. Tahun 342 SM Aristoteles diundang raja Philippos dari Macedonia untuk mendidik anaknya Alexander, kemudian Aristoteles mendirikan sekolah Lykeion. Karya-kaya Aristoteles berjumlah delapan pokok bahasan sebagai berikut :
Ø   Logika, filsafat alam, Psikologi, Biologi, Metafisika (oleh Aristoteles dinamakan sebagai filsafat pertama atau theologia), Etika, Poltik dan Ekonomi, Retorika dan Poetika.
Menurut Aristoteles, pengatahuan manusia hanya dapat dimunculkan dengan dua cara.
a.    Yang pertama dengan cara induksi, suatu proses berpikir yang bertolak pada hal-hal yang khusus untuk mencapai kesimpulan yang sifatnya umum.
b.    Yang kedua deduksi, yaitu proses berpikir yang bertolak pada dua kebenaran yang keduanya tidak diragukan lagi untuk mencapai kesipulan sebagai kebenaran yang ketiga.
Mengenai realitas atau yang ada, Aristoteles tidak sependapat dengan gurunya Plato yang mengatakan bahwa realitas itu ada pada dunia ide. Menurut Aristoteles, yang ada itu berada pada hal-hal yang khusus dan konkret. Realitas terdapat pada yang khusus dan individual.

  1. Filsafat Hellenisme.
Pokok permasalah filsafat dipusatkan pada cara hisup manusia sehingga orang yang dikataka bijaksana adalah orang yang engatur hidupnya menurut budinya. Filsafat Hellenisme ini dimulai pada pemerintahan Alexander Agung (356 - 23 SM) atau Iskandar Zulkarnain Raja Macedoni. Pada zaman ini terjadi pergeseran filsafat, dari filsafatteoritis menjadi filsafat praktis.

a.             Epicurisme.
Sebagai tokohnya Epicurus (31 – 271 SM), lahir di Samos dan mendapatkan pendidikan diAthena. Pokok ajarannya adalah bagaimana agar manusia itu dalam hidupnya bahagia. Agar manusia dalam hidupnya bahagia, terlebih dahulu harus memperoleh ketenangan jiwa. Menurut kenyataan, banyak manusia yang hidupnya tidak bahagia karena mengalam ketakutan. Terdapat tiga ketakutan dalam diri manusia seperti berikut ini :
Pertama          : Agar manusia tekut terhadap kemarahan dewa.
Kedua : Agar manusia tidak takut terhadap kematian. Tidak beralasan apabila manusia takut terhadao kematian karena keamatian itu merupakan akhir suatu kehidupan dan setelah manusia hidup, tidakada kehidupan lagi.
Ketiga : Agar manusia tidak takut terhadap nasib. Karena nasib manusia tidak ditentukan oleh dewa-dewa, melainkan ditentukan oleh atom-atom.

b.             Stoaisme.
Sebagai tokohnya Zano (366 – 264 SM). Yang berasal dari Citium, Cyprus.Pokok ajarannya adalah bagaimana manusia dalam hidupnya dapat bahagia. Untuk mebncapai kebahagiaan itu, manusia harus harmoni terhadap alam, harmoni terhadap dirinya sendiri. Apabila manusia terlah dapat harmoni mencapai harmoni dengan dirinya sendiri, maka kebahagiaan bukan lagi sebagai tujuan hidup, tetapi dalam keadaan harmoni dengan dirinya sendiri. Itulahsesungguhnya manusia dalam keadaan apathea, yaitu keadaan tanpa rasa, atau keadaan manusia di mana dirinya dapay menguasai segala perasaan.

c.              Skeptisisme.
Tokohnya adalah Pyrrhe (360 – 270 SM). Pokok ajarannya adalah bagaimana cara manusia agar dapat hidup berbahagia. Manusia yang hidupnya tidak bahagia, akan sukar dalam mencapai kebijaksanaan. Orang yang tidak pernah mengambil keputusan adalah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Orang yang bijaksana adalah orang yang selalu ragu-ragu.

d.             Neo-Platonisme.
Tokohnya adalah Plotinus dan Ammonius Sacca. Plotinus (204 – 270 SM) lahir di Lykopolis, Mesir. Pemikiran filsafatnya adalah bahwa asas yang menguasai segala sesuatu adalah satu. Perpaduan antara filsafat Plato dengan diberi penekanan kepada upaya pencarian pengalaman batiniah untuk menuju ke kesatuan Tuhan (yang Esa). Pemikirannya, karena Tuhan merupakan isi dan titik tolak pemikirannya, tuhan dianggap sebagai kebaikan Tertinggi dan sekaligus menjadi tujuan semua kehendak. Demikian juga, manusia sebagai makhluk bukanlah sebagai ciptaan Tuhan, tetapi pancaran uhan. Karena segala sesuatu itu timul dengan sendirinya, tugas manusia adalaha kembali keasalnya yaitu Tuhan. Plotinus mengharapkan agar manusia tidak menekankan keduniawian sehinggacepat dapat mencapai keindahan dunia. Apabila manusia dapat memurnikan dirinya dengan menjauhi duniawi, ausia nioscaya akan dapat bersatu dengan Tuhan. Karena zaman Neo-Platonisme ini diwarnai oleh agama, zaman ini disebutnya sebagai zaman mistik.













A.           Filsafat Analitis.
Oval: PEMBAHASAN B
FILSAFAT DEWASA INI
Tokohnya adalah Ludwing Wittgenstein (1889 – 1951), yang lahir di Wina, Austria. Sumbangan terbesarnya dalam filsafat adalah pemikirannya tentang pentingnya bahasa. Ia mencita-citakan suatu bahasa yang ideal, lengkap, formal dan dapat memberikan kemungkinan bagi penyelesaian masalah kefilsafatan.
Filsafat analitis ini berpengaruh di Inggris dan Amerika sejak tahun 1950.Filsafat ini membahas analisis bahasa dan analisis konsep-konsep.
B.            Strukturalisme.
Tokohnya adalah J. Lacan yang lahir di Paris tahun 1901. Pemikirannya, bahasa terdiri dari sejumlah termin yang ditentukan oleh posisinya satu terhadap yang lain.  Termin ini digabungkan dengan aturan gramatika dan sintaksis. Menurutnya, kita baru menjadi pribadi apabila kita mengabdikan diri pada permainan bahasa.
Filsafat dewasa ini, juga disebut filsafat Barat pada abad ke-20. Ciri pekembangan filsafat Barat abad ke-20 ini adalah desentralisasi manusia. Desentralisasi manusia adalah perhatiankhusus terhadap bahasa sebagai subjek kenyataan kita sehingga pemikiran filsafat sekarang ini disebut logosentris.











A.           Pengertian Filsafat
  1. Arti Secara Etimologi
Oval: PEMBAHASAN  C
PENGANTAR FILSAFAT
Kata  Filsafat berasal dari kata Yunani fuilosof, yang berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja pheilein yang berarti mencintaiatau philia yang berarti cinta, dan Sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut kahirlah kata Inggris philosophy  yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.[5]
Arti kata tersebut di atas belum memperhatikan makna yang sebenarnya dari kata filsafat, sebab pengertian “mencintai” belum memperlihatkan keaktifan seorang filosof untuk memperoleh kearifan atau kebijaksanaan itu. Menurut pengertian yang lazim berlaku di Timur (Tiongkok atau di India), seseorang disebut filosof  bila dia telah mendapatkan atau telah meraih kebijaksanaan. Sedangkan menurut pengertian yang lazim berlaku di Barat, kata “mencintai” tidak perlu meraih kebijaksanaan, karena itu yang disebut filosof atau “orang bijaksana” mempiunyai pengertian yang berbeda dengan pengertian di Timur.[6]
  1. Konsep Plato.
Plato memberikan istilah dengan dialetika yang berarti seni berdiskusi. Dikatakan demikian karena, filsafat harus berlangsung sebagai upaya memberikan kritik terhadap berbagai pendapat yang berlaku. Kearifan atau pengertian intelektual yang diperoleh lewat proses pemeriksaan secara kritis ataupun untuk berdiskusi. Juga diartikan sebagai suatu penyelidikan terhadap sifat dasar penghabisan dari kenyataan. Karena seorang filosof akan selalu mencari sebab-sebab dan asas-asas yang penghabisan (terakhir dari benda-benda).

  1. Konseep Cicero.
Cicero menyebutnya sebagai “Ibu dari semua seni” (the mother of all the arts). Juga sebagai arts vitae yaitu filsafat sebagai seni kehidupan.
  1. Konsep al-Farabi.
Menurut al-Farabi, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bil-maujudat bi ma hiya al-maujudat).
  1. Konsep Rene Descartes.
Menurut Rebe Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
  1. Konsep Franciz Bacon.
Menurut Francis bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pegetahuan sebagai bidangnya.
  1. Konsep John Dewey.
Sebagai tokoh pragmatis, John Dewey berpendapat bahwa filsafat haruslah dipandang sebagai sesuatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan yang tidak sejalan dengan wewenang yang diakui.Tegasnya, filsafat sebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian diantara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan.
  1. Filsafat Sebagai Ilmu.
Dikatakan filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian filsafat mengandug empat pertanyaan ilmiah, yaitu bagaimanakah, mengapakah, ke manakah dan apakah.
Dengan demikian, kalau ilmu-ilmu yang lain (selain filsafat) bergerak dari tidak tahu menjadi tahu, sedangkan ilmu filsafat bergerak dari tidak tahu menjadi tahu selanjutnya ke hakiki.
Untuk mencari/memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstrak, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan (sifat-sifat yang tidak harus ada/aksiden), sehingga akhirnya tinggal keadaan/sifat harus ada (mutlak) yaitu substansi, maka pengetahuan hakikat dapat diperoleh.

  1. Filsafat Sebagai Cara Berfikir.
Berpikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai hakikat atau berpikir secara global/menyeluruh, atau berpikir yang dilihat berbagai sudut pandanangpemikiran atau sudut pandanag ilmu pengetahuan.Hal ini ada beberpa persyaratan yang harus ada, yaitu :
1.             Harus Sistematis.
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional.
2.             Harus Konsepsional.
Sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang jelas, karena berpikir secara filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan prosesnya.
3.             Harus Koheren.
Suatu pemikiran yang didalamnya harus termuat suatu kebenaran yang logis.
4.             Harus Rasional.
Pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah-kaidah berpikir (logika).
5.             Harus Sinoptik.
Pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
6.             Harus Mengarah pada Pandangan Dunia.
Pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memhami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termsuk di dalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada didalamnya (dunia).[7]
  1. Filsafat sebagai pandangan Hidup.
Manusia secara menyeluruh dan sentral di dalam nya memuat sekaligus sebagai sumber penjelmaan bermacam-macam filsafat sebagai berikut :
a.              Manusia dengan raganya dapat melahirkan filsafat biologi.
b.             Manusia dengan unsur rasanya dapat melahikan filsafat keindahan (estetika).
c.              Manusia dengan unsur monodualismenya (kesatuan jiwa dan raganya) dapat melahirkan filsafat antropologi.
d.             Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dapat melahirkan filsafat ketuhanan.
e.              Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial dapat melahirkn filsafat sosial.
f.              Manusia dengan makhluk berakal dapat melahirkan filsafat berpikir (logika).
g.             Manusia dengan kehendaknya untuk berbuat baik dan buruk dapat melahirkan filsafat tingkah laku (etika).
h.             Manusia dengan unsur jiwanya dapat melahirkan filsafat psikologi.
i.               Manusia dengan segala aspek kehidpannya daoat melahirkan filsafat nilai (aksiologi).
j.               Manusia dengan dan sebagai warga negara dapat melahirkan filsafat negara.
k.             Menusia dengan kepercayaannya terhadap supranatural dapat melahirkan filsafat agama.

B.            Objek Materi dan Objek Formal Filsafat.
Yang disebut objek materi adalah hal atau bahan yang diselidiki. Sedangkan objek formal adalah sudut pandang, dari mana hal atau bahan tersebut di pandang.
Menurut Ir. Poedjawijatna, objek materi filsafat tersebut sama dengan objek materi dari ilmu seluruhnya. Yang menentukan perbedaan ilmu yang satu dengan yang lainnya adalah objek formalnya, sehingga kalau ilmu membatasi diri dan berhenti pada berdasarkan pengalaman, sedangkan fisafat tidak membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam-dalamnya, inilah yang disebut objek formal filsafat.

C.           Ciri-ciri Pemikiran Filsafat.
Menurut Clerence I. Lewis seorang ahlia logika mengatakan bahwa filsafat itu sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal. Tidak semua kegiatan kehidupan tersebut sampai pada derajat pemikiran filsafat, tetapi dalam kegiatan yang terdapat beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat adalah sebagai berikut :
1.             Sangat umum dan universal.
Pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan konsep-konsep yang sifatnya khusus, akan tetapi bersangkutan dengan konsep yang bersifat umum, misalnya tentang manusia, tentang keadilan, tentang kebebasandan lain sebagainya.

2.             Tidak Faktual.
Pemikiran filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti. Hal inisebagai sesuatu hal yang yang melampaui tapal batas dari fakta-fakata pengetahuan ilmiah.
3.             Bersangkut dengan nilai.
C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari pengetahuan, berupa fakta-fakta, yang disebut penilaian. Yang dibicarakan dalam penilaian adalah tentang yang baik dan yang buruk, yang susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai. Maka selanjutnya, dibentuklah sistem nilai, sehingga lahirlah berbagai nilai yang diantaranya nilai sosial, nilai keagamaan, nilai budaya dan lainnya.
4.             Berkaitan dengan arti.
Segala sesuatu yang bernilai, maka tentunya di dalamnya penuh dengan arti.
5.             Implikatif.
Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat logis). Dari implikasi tersebut diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis dari tesis ke anti tesis kemudian sintesis, dan seterusnya… sehingga tidak ada habisnya.[8]

D.           Cabang-cabang Filsafat.
Ada empat bidang induk filsafat, yaitu :
1.             Fiksafat tentang pengetahuan.
2.             Filsafat tentang keseluruhan kenyataan.
3.             Filsafat tentang tindakan.
4.             Sejarah filsafat.
Namun dalam bidang studi filsafat untuk memahaminya secara baik paling tidak harus mempelajari lima bidang pokok, yaitu :
1.             Metafisika.
Metafisika merupakan cabang filsafat yang memuat suatu bagian dari persoalan filsafat, yaitu :
a.              Membicarakan tentang prinsip yang paling universal;
b.             Membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan;
c.              Membicarakan karakteristik hal-hal yang sangat mendasar, yang beraa diluar pengalaman manusia;
d.             Berupaya menyajikan suatu pandangan yang komprehensif tentang segala sesuatu;
e.              Membicarakan persoalan-persoalan seperti: hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kemerdekaan, wujud Tuhan, kehidupan setelah kematian dan lainnya.
2.             Epistimologi.
Epistemology lazimnya disebut teori pengetahuan yang secara umum membicarakan mengenai sumber-sumber, karakteristik dan kebenaran pengetahuan. Persoalan epistemology berkaitan erat dengan metafisika. Bedanya, persoalan epistemology berpusat pada apakah yang ada, yang di dalamnya memuat :
-                 Problem asal pengetahuan;
Apakah sumber-sumber pengetahuan;
Dari mana pengetahuan yang benar dan bagaimana dapat mengetahuinya;
-                 Problem penampilan;
Apakah yang menjadi karakteristik pengetahuan?
Adakah dunia riil di luar akal, apabila ada dapatkah diketahui;
-                 Problem mencoba kebenaran;
Apakah pengetahuan itu benar;
Bagaimanakah membedakan antara kebenaran dan kekeliruan;
3.             Logika.
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari segenap asas, aturan dan tatacara penalaran yang benar.
4.             Etika.
Etika atau filsafat perilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan “tindakan” manusia, dengan penekanan yang baik dan yang buruk. Pemahaman “etika” sebagai pengetahuan mengenai norma baik-buruk dalam tindakan mempunyai persoalan yang luas.Etika à rasio, yang lepas dari sumber wahyu agama, cenderung ke analitis dari pada praktis. Etika à bekerja secara rasional.

5.             Sejarah Filsafat.
Sejarah filsafat ini  memuat laporan suatu peristiwa yang berkaitan dengan pemikiran filsafat. Biasanya memuat berbagai pemikiran kefilsafatan mulai dari zaman Yunani hingga zaman modern. Juga memuat pemikiran filsafat para ahli, dan untuk mengetahui pemikiran yang genius hingga pemikir tersebut dapat mengubah dunia.



E.            Metode-metode Filsafat.
  1. Analisis.
Melakukan pemeriksaan secara konsepsional terhadap makna istilah yang kita pergunakan dalam pernyataan yang dibuat.
  1. Sintesis.
Sintesis sebagai upaya mencari kesatuan dalam keragaman. Logika induksi à penarikan simpulan dari pernyataan yang khusus. Logika deduksi à penarikan simpulan dari pernyataan yang umum.
  1. Analogi dan Komparasi.
Upaya untuk mencapai suatu kesimpulan dengan menggantikan apa yang kita coba untuk membuktikannya dengan sesuatu yang serupa dengan hal tersebut.
  1. Dialog Socrates.
Dalam bidang filsafat terdapat beberapa metode yang sering diartikan sebagai jalan berpikir dalam bidang keilmuan. Metode dalamm bidang filsafat sebagai berikut :
a.              Metode Kritis, yaitu dengan menganalisis istilah dan pendapat dengan mengajukan pertanyaan secara terus-menerus sampai hakikat yang dinyatakan.
b.             Metode Intuitif, yaitu dengan melakukan introspeksi intuitif, dengan memakai symbol-simbol.
c.              Metode Analisis Abstraksi, yaitu dengn jalan memisahkan atau menganalisis di dalam angan-angan hingga sampai pada hakikat.

F.            Sejarah Kelahiran Filsafat.
Pada tahun 2000 SM bangsa Babylon yang hidup di lembah Sungai Nil (Mesir) danSugai Efrat, telah mengenal alat pengukur berat, tabel bilangan berpangkat, tabel perkalian dengan menggunakan sepuluh jari. Ada beberapa masa dalam peembagian sejarah filsafat, yaitu :

1.             Masa Yunani
Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan pedagang, sebab sebagian besar penduduknya hidup dipesisir pantai. Kepercayaan yang menganggap hubungan Tuhan dengan manusia hanya sebatas formalitas, Tuhan dengan kehidupan manusia terpisah.
Thales 625 – 545 SM, yang berhasil mengembangkan geometri dan matematika. Liokippos dan Democritas mengembangkan teori materi. Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran. Euclid mengembangkan geometri dudektif. Socrates mengembangkan teori tentang moral. Plato mengembangkan teori tentang ide. Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan benda, dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). Suatu keberhasilan yang sangat luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan system pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih dikenal.

2.             Masa Abad Pertengahan.
Diawali dengan lahirnya filsafat Eropa yang dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen, artinya pemikiran filsafat pada abad pertengahan ini didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.
Pada abad ke-6 Masehi, setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung maka didirikanlah sekolah-sekolah yang memberikan pelajaran gramatika, dialetika, geometri, aritmatika, astronomi dan music. Kemudian pada abad ke-13 berdiri ordo-ordo dan universitas-universitas seperti Anselmus (1033-1109), Abaelardus (1079-1143), Thomas Aquinus (1225-1274).

3.             Masa Abad Modern.
Pemikiran filsafat menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan sehingga corak pemikirannya antroposentris. Meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi secara modern, serta membuka sistematika yang bersifat logis dan ilmiah.
Tokoh-tokohnya.
Geoerge Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776), J.J Rousseau (1722-1778). Di Jerman muncul Christian Wolft (1679-1754), yang merupakan agar filsafat menjad ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna, yaitu dengan cara membentuk pengertian yang jelas dan bukti yang kuat.
Abad ke-19 perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Ada filsafat Amerika, filsafat Prancis, filsafat Inggris, filsafat Jerman. Tokoh-tokohnya adalah : Hegel (1770-1837), Karl Marx (1818-1883), August Comte (1798-1857), JS. Mill (1806-1873), John Dewey (1858-1952).


4.             Masa Abad Dewasa Ini (Filsafat abad ke-20)
Masa filsafat ini yang disebut dengan Filsafat Kontemporer. Ciri khasnya adalah desentralisasi manusia yang memberikan perhatian khusus pada bidang bahasa dan etika sosial. Pada awal pertama abad ini timbul aliran-aliran filsafat, seperti Neo-Thomisme, Neo-Kantianisme, Neo-Hegelianisme, Kritik Ilmu, Historisme, Irasionalisme, Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme.Pada awal belahan abad ini menucul aliran flsafat yang lebih dapat memberikan corak pemikiran seperti : Filsafat Analitik, Filsafat Eksistensi, Struktualisme, Kritik Sosial.





















A.           Filsafat India.
Oval: PEBAHASAN D
PEMIKIR FILSAFAT DI TIMUR
Filsafat India berkembang dan menjadi datu dengan agama sehingga pemikiran filsafatnya bersifat religious dan tujuan akhirnya adalah mencari keselamatan akhirat. Filsafat India terbagi mennjadi beberapa zamanyaitu ;
  1. Zaman Weda (1500 – 1600 SM).
Zaman ini diisi oleh bangsa Arya. Benih pemikiran filsafatnya berasal dari kitab-kitab Weda. Orang Arya menyembah dewa (Matahari, Bulan, Bintang dan lainnya). Dewa Indra dianggap sebagai dewa nasional, Dewa Indra berarti bangsa Dasyu. Dewa Waruna yaitu dewa yang menguasai alam semesta, yang sekaligus sebagai dewa moral dan dewa segala dewa. Kedalaman pemikiran filsafat terbukti dari anggapan dahulu, Dewa Brahman hanya dianggap sebagai asas pertama alam semesta. Pada zaman Upanishad, Dewa Brahman dianggap telah berada dalam alam semesta dan diri manusia, yang terjelma berupa unsur api.
  1. Zaman Wiracarita (600 – 200 M).
Zaman ini diisi oleh perkembangan system pemikiran filsafat yang berupa Upanishad, yang muncul berupa tulisan dan tentang hubungan antara manusia dengan dewa. Akibat dari kaum penjajah,moral atau kpercayaan terhadap dewa menjadi merosot. Kemudian banyak orang mencari ketenangan, dan muncullah para ahli pikir yang menimbulkan beberapa aliran, diantaranya yaitu : aliran yang bertuhan (Baghawadgita), aliran yang tidak bertuhan (Jainisme dan Budhisme) juga aliran spekulatif (Saddarcana). Baghawadgita merupaka sebuah kitab yang ditulis pada abad ke-3 SM, pusat penyebarannya di Gangga Barat. Isinya uraian tentang ajaran Kresna pada Arjuna tentang bhakti.[9]
  1. Zaman Sastra Sutra (200 - sekarang)
Zaman ini disebut zaman skolastik. Kitab yang muncul pertama kali adalah Wedangga. System filsafat India, terbagi enjadi enam system berikut ;
a.    Nyala, yaitu membicarakan bagian umu dan metode yang digunakan dalam penyelidikan, yaitu metode kritis. Peulisnya adalah Gautama (abad ke-4 SM)
b.    Waisesika, yaitu kitab yang bersumber pada Waisesika Sutra. System pemikirannya bersifat metafisik. Ajaran pokoknya membicarakan tentang dharma yaitu tentang kesejahteraan dunia dan memberikan pelepasan. Penulisnya adalah Khanada.
c.    Sakha, yaitu pemantulan. Aliran ini mengemukakan bahwa untuk merealisasikan kenyataan akhir filsafat diperlukan pengetahuan. Penulisnya adalah Sakha Kapila (abad ke-5).
d.   Yoga, yaitu cara ntuk mengawasi pikiran, agar kesadaran yang biasa menjadi luar biasa. Pendirinya Patanjali.
e.    Purwa Wimansa, yaitu system inilah yang benar-benar mendasarkan pada kitab Weda.
f.     Ewdanta, yaitu suatu system yang membicarakan bagian kitab Weda (yang terakhir). Kitab ini merupakan suatu kesimpulan dari kitab Weda.
Tokoh-tokoh tersebut diatas mengemukakan ajaran sebagai beriut ;
1.    Sankara (788 – 820) merupakan pengajar aliran Adwaita. Pokok ajarannya adalah bahwa “Brahmanaadalah Nyata”.
2.    Ramanuja (1017 – 1137), ia berupaya mempersatukan agama Wisnu denganWedanta.
3.    Madwa (1199 – 1278), ia sangat berepengaruh di India Barat. Pokok ajarannya adalah “ada”, merupakan kenyataan yang jamak.
  1. Filsafat India Pada Akhir Abad ke-20.
Berkat jasa Sankara, ajaran Wedanta mendominasi pemikiran filsafat India mulai abad ke-7 sampai abad ke-14. Namun mengalami kemunduran sejak kedatangan agama islam di India pada abad ke-12. Tokohnya adalah Kabir (1440 – 1518) yang berusaha menyingkirkan unsur-unsur yang melemahkan perjuangan islamdan mencoba membuat sintesis antara islam dengan Hindu.
Setelah abad ke-19, pemikiran filsafat Indi bangkit berkat sentuhan kebudayaan Barat. Pelopornya adalah ray Mohan Ray (1777 – 1833), yang merupakan seorang Hindu yang memperoleh pendidikan Barat. Penggantinya adalah Rabindranath Tagore (1861 – 1941), seorang pujangga, ahli filsafat dan pendidik India, kemudian disusul oleh Kesab Chandra Sen (1838 – 1884), akhirnya Brahman samaj pecah karena terpengaruh Kristen.
Setelah itu muncul pembaharu yang lain, diantaranya yaitu Awami D. Saraswati (1824 – 1884). Sri Ramakresna (1834 – 1886). Mahatma Gandhi (1869 – 1948). Sri Aurobindo (1872 – 1950). Sri Rama Maharsi (1870 – 1950).


B.            Filsafat Tiongkok.
Filsafat Tiongkok dapat dikatakan hidupa dalam kebudayaan Tiongkok, karena pemikiran filsafat selalu diberikan pada setiap jnjang pendidikan dari sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Terdapat empat buku yang dianggap sebagai kitab suci rakyat Tiongkok.
a.    Analecta Confucius;
b.    Karangan Mencius;
c.    Ilmu Tinggi;
d.   Ajaran tentang jalan tengah.
Menurut Fung Yu Lan (ahli sejarah), di Tiongkok ada tiga agama, yaitu Confucianisme, Taoisme dan Budhisme. Di Tiongkok, kegiatan keagamaan tidak dianggap penting, yang penting adalah etika terutama dari Confucius.
Menurut rakyat Tiongkok, fungsi filsafat dalam kehidupan manusia untuk mempertinggi tingkat rohani. Menurut Mencius “orang bijaksana adalah sebagai puncak hubungan antar manusia”.
Dari sudut moral, orang yangarif bijaksana adalah manusia yang paling sempurna di dalam suatu masyarakat. Menurut kebiasaan masyarakat Tiongkok kewajiban memungkinkan manusia untuk memperoleh watak yang digambarkan sebagai orang arif bijaksana.
C.           Filsafat Islam.
Islam dengan kebudayaannya telah berjalan selama 15 abad.Terdapat 5 abad perjalanan yang paling menakjubkan dalam kegiatan pemikiran filsafat, yaitu antara abad ke-7 hingga abad ke-12. Para ahli pikir islam merenungkan kedudukan manusia di dalam hubungannya dengan sesame, alam dan dengan Tuhan, dengan menggunakan akal pikir. Dalam kegiatan pemikiran filsafat tersebut, terdapat dua macam kekuatan pemikiran[10] :
a.    Para ahli pikir islam berusaha menyusun sebuah sistem yang disesuaikan dengan ajaran islam.
b.    Para ulama menggunakan metode rasional dalam menyelesaikan soal-soal ketauhidan.
Para ahli pikir dan ulam tersebut menggunakan instrument atau alat filsafat untuk membela dan membentengi tauhidnya, juga memberikan  kesimpulan yang tidak bertentangan dengan dasar ketauhidan.
Dari sekian banyak ulama islam, ada yang keberatan terhadap pemikiran filsafat islam dengan alasan, adanya pemikiran filsafat dianggap bid’a dan menyesatkan, Al-quran tidak untuk diperdebatkan, dipikirkan, dan ditakwilkan menurut akal pikir manusia, tetapi untuk diamalkan dan dijadikan tuntunan hidup di dunia dan akhirat. Namun juga ada yang menerima terhadap pemikiran filsafat dan berpendapat bahwa “pemikiran filsafat sangant membantu dalam menjelaskan isi dan kandungan Al-Quran dengan penjelasan yang dapat diterima oleh akal pikir manusia.
1.             Beberapa Perbedaan yang Mendorong Aliran Pemikiran Filsafat Timbul.
Timbulnya aliran pemikiran filsafat disorong oleh beberapa perbedaan ;
a.    Persoalan tentang zat Tuhan yang tidak dapat diraba, dirasa dan dipikirkan.
b.    Perbedaan cara berpikir.
c.    Perbedaan orientasi dan tujuan hidup.
d.   Perasaan “asabiyah”, keyakinan yang buta atas dasar suatu pemdirian walaupun diyakini todak benar lagi.
2.             Lahirnya Filsafat Islam.
Setelah Kaisar Yustinus menutup akademi Neoplatonisme di Athena, beberapa guru besar hihrag ke Kresipon tahun 527, yang kemudian disambut oleh kaisar  Khusraw tahun 529. Setelah 20 tahun mengajar, juga mempengaruhi lahirnya lembaga-lembaga yang mengajarkan filsafat seperti Alexandria, Anthipia, Beirut.
3.             Pemabagian Aliran Pemikiran Filsafat Islam.
Pembagian ini berdasarkan pada hubungan dengan system pemikiran Yunani, sebagai berikut ;
a.    Periode Mu’tazilah. Periode ini berlangsung mulai abad ke-8 sampai abad ke-12, yang merupakan sebuah teologi rasiona;l berkembang di Baghdad dan Basrah. Golongan ini yang dikatakn menyeleweng dari ajaran islam
b.    Periode Filsafat pertama. Periode ini berlangsung mulai dari abad ke-8 sampai abad ke-11, pemikirannya bersandar pada pemikiran HelleHHellenisme, seperti Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi dan Ibnu Sina.
c.    Periode Kalam Asy’ari. Berlangsung mulai abad ke-9 hingga abad ke-11, puastnya di Baghdad. Pemikirannya mengacu pada sistme Elia (Atomistis).
d.   Perode Filsafat Kedua. Berlangsung mulai abad ke-11 hingga abad ke-12, yang berkembang di Spanyol dan Magrib. Aliran ini mengacu pada peripatetis. Tokohnya Ibnu Bajah, Ibnu Tufai dan Ibny Rusyd.
e.     
D.           Filsafat Indonesia.
Pandangan hidup bangsa Indonesia tidak sama dengan pandangan hidup bangsa Negara lainnya. Maksud pemikiran filsafat indoensia adalah suatu peikiran filsafat yang diperuntukkan sebagai landasan hidup bangsa Indonesia. Untuk mencapai semua itu dibutuhkan suatu keselarasan dan keharmonisan, yang dapat dicapai dengan tiga cara, yaitu ;
a.    Selaras atau harmonis dengn dirinya sendiri.
b.    Selaras atau harmonis dengan pergaulan sesame manusia danlingkungan seitar.
c.    Selaras atau harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Ketiganya ini merupakan mutlak adanya, didalanya tidap terdapat pertentangan lagi antara satu dengan lainnya. Jadi, pandangan hidup model Indonesia mempunyai banyak dimensi yang berakar keselarasan atau keharmonisan dengna hakikat kedudukan kodrat manusia, yang implementasinya berupa asas kekeluargaan dan kehidupan yang diridai Tuhan.
  1. Materi Filsafat (Pandangan Hidup) Indonesia.
Pandangan hidup yang sesuai dengan manusia indoensia adalah suatu pandangan hidup yang berasal dari akas hakikat yang terkandung dalam khasanah budaya Indonesia, yang dapat dijumpai dalam berbagai adat istiadat, peribahasa, pepatah yang kesemuanya merupakan ungkapan perilaku kehidupan manusia Indonesia.
Setelah lepas dari penjajah, rakyat Indonesia sadar bahwa apabila suatu Negara tidak mempunyai kebudayaan, dikatakan sebagai Negara yang miskin. NKRI yang terdiri ribuan pulau, beragam adat istiadat, berates-ratus suku dan bahasa. Dari pandangan hidup itulah menyebabkan pandangan hidupnya juga beragam, keragaman tersebut menunjukkan kejayaan NKRI yang keseuanya itu mempunyai kesamaan hakikat. Dari kesamaan hakikat inilah nantinya muncul pandangan hidupa bangsa Indonesia yaitu Filsafat Indonesia.
  1. Bentuk Filsafat Indonesia.
Bentuk filsafat Indonesia terdiri dari lima sila berikut ini :
Sila I    : Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sila II : Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sila III             : Persatuan Indonesia.
Sila IV             : Kerakyatan yag dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
Sila V : Kadilan bagi seluruh akyat Indonesia.
Lima sila diatas juga disebut lima dasar sebagai suatu totalitas, merupakan suatu kebulatan tunggal, yang setiap sila-sila selalu mengandung keempat sila yang lainnya. Dengan demikian pancasila mempunyai sifat yang abstrak, umum, universal, tetap tidak berudah, menyatu dalam satu intihakikat mutlak ; Tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil, yang kedudukannya sebagai inti pedoman dasar yang tetap. Pancasila adalah satu-satunya pandangan hidup yang dapat mempesatukan rakyat dan bangsa Indonesia.[11]





















A.           Oval: PEMBAHASAN E
FILSAFAT MODERN
Rasionalisme.
Munculnya aliran ini dilatar belakangi oleh keinginan untuk bebas dari segala pemikiran tradisional (skolastik). Dipelopori oleh Rene Descartes (1596 – 1650) yang disebut sebagai bapak filsafat modern. Ahli dalam ilmu alam, ilmu hokum dan ilmu kedokteran. Sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal, karena hanya akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah.
B.            Empirisme.
Tokohnya adalah Thomas Hobbes. John Locke dan David Hume. Adanya kemajuan ilmu pengetahuan, mengakibatkan filsafat mengalami kemerosotan, bahkan dianggap tidak penting. Pengetahuan besar manfaatnya bagi kehidupan. Pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar hanya diperoleh lewat indra (empiri). Dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan.
C.           Kritisisme.
Zaman ini dilatar belakangi oleh manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan telah mencapai hasil yang mengtgenmbirakan. Pertentangan antara Rasio dan Empiri masih berlanjut yang menimbulkan permasalahn. Siapa yang dikatakan sumber pengethuan, rasio atau empiri?. Immanuel Kant (1724 – 1804) mencoba menyelesaikan dengan mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme,tapi ia tidak mudah menerimanya. Kant mengakui peranan akal dan keharusan empiri. Walaupun pengetahuan bersumber pada akal. Tetapi pengertiannya timbul dari benda. Jadi, metode berpikirnya inilah yang disebut metoe kritis.
D.           Idealisme.
Perlopornya adalah ; J.G. Fichte (1762 – 1814), F.W.J. Scheling (1775 – 1854), G.W.F. Hegel (1770 – 1831) dan Schopenhauer (1788 – 1860). Merasa tidak puas tentang pemikiran Kant bahwa ilmu pengetahuan  dibatasi secara kritis. Ide yang berpikir itu sebenarnya yang menimbulkan gerak lain. Gerak yang menimbulkan tersis à anti tesis, timbul sintesis (tesis baru) à antithesis. Inilah yang disebut dialektika.
E.            Positivisme.
Lahir pada abad ke-19, titik tolak pemikirannya, apa yang telah diketahui adalah factual dan yang positif, sehingga metafisika ditolak.Positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman objektif.Tokohnya adalah ; Agust Comte (1798 – 1857), John S. Mill (1806 – 1873), Herbert Spencer (1820 – 1903).
F.            Evolusionisme.
Dipelopori oleh Zoologi yang mempunyai pengaruh sampai saat ini yaitu ; Charles Robert Darwin (1809 – 1882). Malthus (manusia akan cenderung meningkat jumlahnya di atas bahan makanan). Darwin menyimpulkan bahwa, manusia harus berjuang di antara sesamanya agar bisa bertahan hidup. Pada hakikatnya antara binatang, manusia dan benda apapuntidak ada bedanya. Dimungkinkan terdapat perkembangan manusia pada masa yang akan dating lebih sempurna. Dalam pemikirannya Darwin tidak melahirkan system filsafat.tapi pada ahli pkir berikutnya (Herbert Spencer) berfilsafat berdasarkan pada Evolusionisme.
G.           Materialisme.
Julien de Lamettrie (1709 – 1751) mengemukakan, bahwa binatang dan manusia tidak ada bedanya, karena semuanya dianggap sebagai mesin. Bahan (badan) tanpa jiwa mungkin hidup (bergerak), sedangkan jiwa tanpa bahan tidak mungkin ada. Ludwing Feueurbach (1804 – 1872) (pengikut Hegel) mengemukakan, bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila meniolak agama/metafisika.Karl Marx (1818 – 1883), lahir di Trier, Prusia, Jerman. Terpengaruh ajaran Hegel sewaktu masih mahasiswa. Perndapatnya, tugas seorang filosof bukan menerangkan dunia, tetapi untuk mengubahnya.
H.           Neo-Kantianisme.
Setelah Materialisme pengaruhnya merajalela, para murid Kant mengadakan gerakan lagi. Mereka ingin kembali ke filosafat kritis, yang bebas dari spekulasi idealism dan dogmatis Positivisme dan Materalisme.Tokohnya ; Wilhelm Windelbland (1848 – 1915), Herman Cohen (1842 – 1918), Paul Natrop (1854 – 1924) dan Henrich Reickhart (1863 – 1939).Herman Cohen mengemukakan, bahwa keyakinan pada otoritas akal manusia untuk mencipta.
I.              Pragmatisme.
Pragmatism adalah aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokohnya ; William James (1842 – 1910), lahir di New York. Ahli dalam bidang seni, psikologi. Apabila ide-ide agama dapat memperkaya kehidupan,maka ide-ide tersebut benar.


J.             Filsafat Hidup.
Filsafat ini lahir dari reaksi dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang menyebabkan industrialisasi semakin pesat. Alam semesta atau manusia dianggap sebagai mesin, yang tersusun dari beberapa komponen, dan bekerja sesuai dengan hukumnya. Tokohnya adalah Henry Bergson (1859 – 1941). Alam semesta merupakan suatu organisme yang kreatif, tetapi berkembangnya tidak sesuai dengan implikasi logis, hanya beberapa yang berhasil membentuk organisme kreatif. Salah satunya yaitu manusia dengan intelektualnya dan mengapa manusia bisa lolos dari seleksi alam.
K.           Fenomenologi.
Suatu gejala tidak perlu harus diamati oleh indra, karena gejala juga dapat dilihat secara batiniah, dan tidak harus berupa kejadian. Tokohnya adalah ; Edmund Husserl (1839 – 1939), dan pengikutnya Max Scheler (1874 – 1928). Edmund Husserl, lahir di Wina. Pemikirannya bahwa objek harus diberi kesempat6an untuk berbicara, yaitu dengan cara fenomenologis yang didukung oleh metode deduktif.
L.            Eksistensialisme.
Aliran ini merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasarkan pada eksistensinya. Pelopornya adalah ; Soren Kierkegaard (1813 – 1855), Martin Heidegger, J.P.Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel. Soren Kierkegaard mengemukakan bahwa kebenaran itu tidak berada paa suatu system ayng umum tetapi berada dalam eksistensi individual,yang konkret.
M.          Neo-Thomisme.
Aliran yang mengikuti paham Thomas Aquinus. Paham yang menganggap bahwa ajaran Thomas harus diiluti, akan tetapi tidak boleh beranggapan bahwa ajarannya betul-betul sempurna.








Oval: PEMBAHASAN F
FILSAFAT BARAT ABAT PERTENGAHAN
Filsafat Yunani mengalami kemegahan dan kejayaan dengan hasil yang sangat gemilang, yaitu melahirkan peradaban Yunani. Menurut pandangan sejarah filsafat, dikemukakan bahwa peradaban Yunani merupak titik tolak peradaban manusia di dunia. Gilirannya selanjutnya adalah warisan peradaabn Yunani jatuh ke tangan kekuasaan Romawi. Kekuasaan Romawi memperlihatkan kebesaran dan kekuasaannya hingga daratan Eropa (Britania)m tidak ketinggalan pula pemikiran filsafat Yunani iktu terbawa. Semua itu berkat peran dari Caesar Augustus yang mencipta masa keemasan kesusastraan Latin, kesenian dan arsitektur Romawi.
Karena filsafat Yunani bersamaan dengan agama Kristen dan berintegrasi, maka muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya sebagai penjelam dari Filsafat Yunani danagama Kristen.
Walaupun agama Kristen relative asih baru keberadaanya, tetapi pada data itu muncul anggapan yang sama terhadap filsafat Yunani dan agaa Kristen. Anggapan pertama, bahwa Tuhan turun ke Bumi dengan membawa kabar baik bagi umat manusia, yang berupa firman Tuhan sebagi sumber kebijaksanaan yang sempurna dan sejati. Anggapan kedua, bahwa walaupun orang-orang telah mengenal agama baru, tetapi juga menganal filsafat Yunani yang dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Filsafat Barat abad pertengahan (476 – 1492) juga dapat dikatakan sebagai “abad gelap”. Pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah gereja.
Ciri-ciri pemikiran Filsafat Barat Abat Pertegahan adalah :
a.    Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja.
b.    Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles.
c.    Berfilasafat dengan perolongan Augutinus dan lain-lain.
Masa Abad Pertengahan ini jua dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya  mengiring manusia ke dalam kehidupan kepercayaan yang picik dan fanatic, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Krena itu perkebangan ilmu pengetahuan terlambat.
A.           Masa Patistik.
Istilah Patristik berasal dari kata latinpater atau bapak, yang artnya pada pemimpin gereja, yang dipilih dari golongan ahli pikir. Dari golongan itu, timbul perbedaan pemikiran. Ada yang menolak danada yang menerima. Yang menolak alasannya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan. Bagi yang menerima sebagai alasannya beranggapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran (firan Tuhan) tetap tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja. Dari perbedaan itulah, sehingga orang yang menerima filsafat Yunani menuduh mereka (Orang Kristen yang menolak filsafat Yunani) orang munafik. Kemudian orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, bahwa tuduhan tersebut adalah fitnah. Akibatnya muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu para apologis, yang tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut :
  1. Justinus Martir.
Nama aslinya Justinus, kemudia nama Martir diambil dari istilah “orang yang rela hanya untuk kepercayaan”. Agama Kristen bukan agama baru, karena agama Kristen lebih tua dari pada filsafat Yunani. Anggapannya bahwa Socrates dan Plato itu mengambil filsafat Yunani dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan bahwa kristus adalah logos. Orang Yunani dianggap tidak memahami dengan logos tersebut sehingga terpengaruh oleh demon atau setan. Demon tersebut dapat mengubah pengetahuan yang benar kemudian dipalsukan. Jadi agama Kristen lebih bermutu disbanding dengan filsafat Yunani.
  1. Klemens (150 – 215).
Termasuk pembela Kristen, tetapi tidak membenci filsafat Yunani. Pokok pemikirannya adalah :Memberikan batasan terhadap ajaran Kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas filsafat Yunani. Memerangi ajaran yang anti terhadap Kristen dengan menggunakan filsafat Yunani.Bagi orang Kristen, filsafat dapat dipakai untuk membela iman Kristen, dan memikirkan secara mendalam.
  1. Tertullianus (160 – 222).
Lahir bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melaksanaka penobatan menjadi gigih mebela Kristen secara fanatik.Menolak filsafat Yunani karena dianggap tidak perlu karena dengan wahyu Tuhan sudah cukup. Lama-kelamaan Tertullianus menerima filsafat Yunani sebagai cara piker yang rasional. Menerima filsafat sebagai cara atau metode berpikir untukmemikirkan kebenaran dan keberadaan Tuhan serta sifat-sifatnya.
  1. Augustinus (354 – 430).
Telah memperlajari bermacam-macam aliran antara lain aliran Platonisme dan Skeptisisme. Dijuluki sebagai murid Skolastik sejati karena telah berhasil membentuk filsafat Kristen dalam abad pertengahan. Setelah mempelajari aliran Skeptisisme, ia tidak menyukainya karena didalamnya terdapat pertentangan bainiah. Menurut pemikirannya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi piker manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak terbatas. Karena ajaran Augutinus bersifat sebagai suatu metoda, maka ajarannya mampu meresap sampai pada masa skolastik dan menjadi pelopor pemikiran Skolastik.
  1. Masa Skolastik.
Istilah Skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school yang berarti sekolah. Perkataan Skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat pertengahan. Terdapat beberapa pengertian dari corak khas Skolastik, antara lain sebagai berikut :
a.    Filsafat Skolatik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama.
b.    Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk.
c.    Filsafasat Skolastik adalah system filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kpercayaan dan aka.
d.   Filsafat Skolastik adalah filsafat Nasrani karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.
Filsafat Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa factor, yaitu :
  1. Faktor Religius
Maksud dari faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berkehidupan religious. Mereka menganggap bahwa kehidupan itu suatu perjalanan menuju tanah suci Yerussalem. Karena manusia itu menurut sifat kodratnya mempunyai cela atau kelemahan yang dilakukan oleh Adam, mereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan berperan sebagai pembebas dan pemberi bahagia. Anggapan dan keyakinan inilah yang dijadikan dasar pemikiran filsafatnya.
  1. Factor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja ataupun dari keluarga istana. Kepustakaannya diambil dari para penulis Latin, Arab (islam).
  1. Skolastik Awal.
Abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada dibawah Karel Agung (742 – 814) dapat memberikan ketenangan dalam bidang politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dengan ditandai dengan skolastik yang didalamnya banyak diupayakan pengebangan ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah, merupakan zaman yang baru bagi bangsa Eropa. Skolastik mulanya timbul di biara Italia dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda. Kurikulum pengajarannya meliputi studi duniawi atau artes liberals, tata bahasa, retorika, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan music. Tokoh-tokohnya antara lain ; Aquinas (735 – 805), Johannes Scotes Eriugena (815 – 870), Peter Lombard (1100 – 1160), John Salisbury (1115 – 1180) dan Peter Abaelardus (1079 – 1180).
  • Peter Abaelardus (1079 – 1180).
Lahir di Pallet, Prancis.  Mempunyai kepribadian yang keras dan pandangan sangat tajam sehingga sering kali bertenkar dengan para ahli piker dan pejabat gereja. Termasuk orang yang konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantik, sekaligus sebagai rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan kekuatan Iman. Berpikir itu berada diluar iman, karena itu berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Teologi harus memberikan tempatbagi semua bukti-bukti, dengan demikian dalam teologi itu iman hamper kehilangan tempat.
  1. Skolastik Puncak.
Merupakan masa kejayaan skolastik (1200 – 1300) yang juga disebut masa berbunga. Yang ditandi dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersamaan ikut memajukan ilmu pengetahuan.
Factor mengapa masa Skolastik mencapai puncaknya.
a.    Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibn Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
b.    Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Prancis. Universitas ini merupakan awal dari berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lainnya.
c.    Berdirinya ordo-ordolah yang muncul karena banyak perhatian terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulakan dorongan yang kuat. Tokohnya adalah Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D.Scotus, William Ocham.
  1. Upaya Kristenisasi Ajaran Aristoteles.
Sebagian ahli pikir membawa ajaran Aristoteles, namun mendapatkan perlawanan dari Augustinus, karena dianggap telah tercemar oleh ahli piker Arab (islam) pada abad ke-12. Dan dianggap sangat membahayakan bagi ajaran Kristen. Untuk menghindari pencemaran tersebut, Albertus Magnus dan Thomas Aquinus sengaja menghilangan unsur-unsur atau selipandari Ibnu Rusyd dengan menerjemahkan langsung dari bahasa Latinnya.Upaya Thomas Aquinus ini sangata berhasil dengan terbitnya sebuah buku Summa Theologiae dan sekaligus merupakan bukti bahwa ajaran Aristoteles mendapatkan kemenangan dan sangat mempengaruhi seluruh perkembangan Skolastik.
  1. Albertus Magnus
Dikenal sebagai cendikiawan abad pertengahan. Di Universitas Padua, ia belajar artes liberals, ilmu pengetahuan alam, kedoteran, filsafat Aristoteles, belajar Theologi di Bulognia dan masuk ordo Dominican tahun 1223. Terakhir diangkat sebagai uskup agung. Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan ilu kimia.
  1. Thomas Aquinus.
Lahir di Rocca Secca, Napoli, Italia. Ia seorang dokter gereja bangsa Italia. Merupakan tokoh terbesar Skolastisisme, seorang yang suci di gereja Katolik Romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi gereja Katolik. Berusaha membuktikan bahwa iman Kristen secaa penuh dapat dibenarkan dengan pemikiran logis. Menurutnya, semua kebenaran berasal dari Tuhan.
  1. Skolastik Akhir.
Ditandai dengan rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblat sehingga memperlihatkan stagnasi. Tokohnya antara lain :
  1. William Ockham (1285 – 1349).
Ahli pikir Inggris yang beraliran Skolastik.Dipenjara di Avignon karena terlibbat petengkaran Umum dengan Paus John XXII. Menurutnya, pemikiran manusia hanya dapat mengetahui barang atau kejadian individual. Membantah anggapan Skolastik bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis.
  1. Nicolas Casasus (1401 – 1464).
Terdapat tiga cara untuk mengena, yaitu lewat indra, akal dan intuisi. Dengan tiga cara ini, ia mengupayakan mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan, yang dibuat ke suatu sintesis yang lebih luas.
  1. Skolastik Arab (Islam).
Hasbullah bakry menerangkan bahwa istilah skolastik islam jarang dipakai di kalangan uat islam, yang sering dipakai yaitu ilmu kalam dan filsafat islam. Tokohnya yaitu ; Al-Farab, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd. Memberikan sumbangan yang besar terhadap Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan menganggap bahwa filsafat Aristoteles benar, Plato dan Alquran benar, mereka mengadakan sinkretisme antara agama dan filsafat. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangan kaum islam terhadap Eropa. Karena mereka tidak mau mengakui secara terus terang jasa para ahli pikir isla, akhirnya mereka menyembunyikan peranan ahli pikir islam atas kemajuan dan peradaban Barat itu.
  1. Masa Peralihan.
Masa ini diisi oleh gerakan kerohanian yang bersifat pembeharuan. Juga merupakan embrio masa modern. Masa ini ditandai dengan munculnya beberapa ajaran yaitu ;
  1. Renaissance.
Renaissance atau kelahiran kembali di Eropa merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran yang dimulai di Italia. Keudian di Prancis, Spanyol, dan menyebar ke seluruh Eropa. Tokohnya adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, Machiavelli dan Giordano Bruno.
  1. Humanism.
Dipakai sebagai suatu pendirian di kalangan ahli pikir Renaissance yang mencurahkan perhatiannya terhadap pengajaran kesusastraan Yunani dan Romawi. Kemudian Humanisme berubah fungsi menjadi gerakan untuk kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastra Yunani atau Romawi. Tokohnya adalah Boccaccio, Petrarcus, Lorenco Vallia, Erasmus dan Thomas Morre.
  1. Reformasi.
Merupakan revolusi keagamaan di Eropa Barat padaabad ke-16. Dimulai dari gerakan terhadap perbaikan keadaan gereja Katolik, kemudian berkembang menjadi asas Protetantisme. Tokohnya adalah Jean Calvin dan Martin Luther. Dalam filsafat Renaissance salah satu unsur pokoknya adalah manusia.







Oval: REFRENSI


Landasan dan kerangka berfikir Ilmia Filosofis : Ust Arianto AHMAD
Saebani. Halm 440-450. Pustaka SETIA .BANDUNG.
Filsafat Umum (akal dan hati sejak Thales sampai Capra) : Prof. Dr. Ahmad Tafsir
Pengantar Filsafat : Louis O. Kattsoff.
Filsafasat Umum : Asmoro Achamdi 2008
Filsafat Umum (Dari Metologi sampai Teofilosofi) : Drs. Atang Abdul Hakim, Drs. Beni Ahmad





[1] Ahmad, Tafsir. Filsafat Umum (akal dan hati sejak Thales sampai Capra).
[2] Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat.

[3] Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat.

[4] Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat.

[5] Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. Jakarta. Rajawali Persada. 2007. Halm 1.
[6] Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. Jakarta. Rajawali Persada. 2007. Halm 2
[7] Asmoro, Achmad. Filsafat Umum. Jakarta. Rajawali Persada. 2007. Halm 6
[8] Asmoro, Achmad. Filsafat Umum. Jakarta. Rajawali. 2007. Halm 15
[9] Hakim,  Atang Abdul. Filsafat Umum (Dari Metologi sampai Teofilosofi).
[10] Hakim,  Atang Abdul. Filsafat Umum (Dari Metologi sampai Teofilosofi). Bandung. 2008. Setia Pustaka. Halm 440-450
[11] Hakim,  Atang Abdul. Filsafat Umum (Dari Metologi sampai Teofilosofi). Bandung. 2008. Setia Pustaka. Halm 440-450

Share this :

First
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔