Contoh Proposal Penelitian efektifitas perpustakaan desa

4:21:00 PM
   A.  Efektivitas Perpustakaan Desa Dalam Mengembangkan     Kecerdasan Intelektual di Desa Swarga Bara Sangatta         Utara.
    B.  Latar Belakang Masalah
Perpustakaan di era modern seperti saat ini bukan lagi seperti penilaian mayoritas orang – orang masa lalu. Perpustakaan adalah tempat buku yang dijaga oleh petugas yang berkacamata tebal, yang dengan setia menjaga buku dan memberikan peluang kepada siapa saja yang meminjam buku. Pustakawan di perpustakaan hanya ditemani buku – buku kumal dan ruang tanpa pendingin ruangan. Setelah ribuan tahun hidup dengan teknologi cetak dan ratusan tahun dengan teknologi analog, kelahiran dan perkembangan pesat teknologi digital menimbulkan revolusi mendasar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi kalangan pustakawan. Artinya, pustakawan sesungguhnya berperan besar dalam memberikan sumbangan dalam perkembangan peradaban. Akan tetapi, perannya tidak terlihat oleh sebagian besar masyarakat. Misalnya, ketika orang melihat perpustakaan, seolah – olah pustakawan terhalang oleh deretan koleksi yang semakin hari semakin tua dan semakin menjauhi unsur kekiniannya.
Konon, ketika menyebut kata perpustakaan atau library, pemikiran orang merujuk pada suatu medium peradaban manusia, yaitu buku. Untuk waktu yang sangat lama, buku menjadi sumber daya pengetahuan yang utama, yang dihimpun oleh perpustakaan. Hal ini terjadi karena posisi perpustakaan dianggap hanya sebagai tempat penyimpanan saja, dan ternyata hingga abad modern anggapan yang demikian pun masih belum bisa dihilangkan.
Upaya untuk mengembangkan manusia tidak pernah terlepas dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam memajukan hidup dan kehidupan manusia. Kepribadian, kemampuan berfikir, kreatifitas, penguasaan ilmu dan teknologi, dan segala macam wujud budaya dapat berkembang atas jasa pendidikan.
Untuk mampu mengantisipasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah mulai dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, alternatif yang paling mungkin dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia ( SDM ). Dengan tersedianya manusia Indonesia yang berkualitas handal, selain akan mampu menjawab segala tantangan dan perkembagan kemajuan zaman yang begitu cepat dan kompleks, juga akan mampu memberikan kontibusi aktif dalam segala hal bidang dan aspek pembangunan bangsa dan negara. Oleh karena itu dapat dipahami sedalam – dalamnya apabila konsep dan program peningkatan SDM ini merupakan prioritas utama dalam setiap sektor pembinaan dan pembangunan masyarakat luas.
Hanya yang jadi persoalan adalah bagaimana kita dapat secara merata dan kontekstual/fungsioanl mampu meningkatkan SDM ini bagi seluruh masyarakat warga negara yang jumlahnya begitu besar dan tersebar di berbagai pelosok pemukiman di seluruh tanah air. Penanganan tentang program pembinaan dan peningkatan SDM yang komprehensif yang meyentuh seluruh lapisan masyarakat yang beraneka ragam dan tersebar luas ini kiranya perlu dijadikan prioritas utama. Apabila hal ini tidak terjadi dilakukan, kita khawatir pada suatu saat akan terjadi kesenjagan kualitas antar satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lainnya.
Tersedianya perpustakaan umum yang tersebar dimana – mana dalam berbagai bentuk dan tingkatan, dan layanan mampu menjangkau / menyentuh seluruh lapisan masyarakat luas kiranya perlu dipersepsi sebagai konsep dan program yang sangat tepat dan memadai.
Keberadaan perpustakaan perlu dipersepsi sebagai lembaga pendidikan alternatif yang memiliki keampuhan tersendiri yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara fungsional dan proposional. Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah bagaimana kita dapat menyelenggarakan perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan dikelola secara fungsioanl dan profesioanal. Perpustakaan dilihat dari konsep dan konteks pembangunan masyarakat harus ditempatkn sebagai sub sistem yang terintegrasi dengan unit – unit kerja layanan masyarakat yang lainnya. Tidak mungkin perpustakaan dapat tumbuh dan berkembang apabila dibiarkan seorang diri.’’[1]
Mengantisipasi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara di abad ke-21 yang akan data kita dihadapkan kepada sejumlah permasalahan dan tantangan yang sangat kompleks. Kenyataan ini perlu dihadapi dengan penuh tanggung jawab, kemampuan, profesioanlisme dan kinerja tinggi, dan kearifan dalam bertindak yang berdasar pada wawasan yang cukup luas. Dua permasalahan utama yang sejak sekarang sudah mulai dirasakan adalah : ( 1 ). Ledakan pertambahan jumlah penduduk yang menuntut pembinaan sumber daya manusia yang lebih berkualitas; dan ( 2 ). Munculnya era informasi, dan globalisasi kedalam kehidupan masyarakat yang begitu cepat sebagai dampak dari perkembangan ilmu dan teknologi. Apabila kenyataan yang digambarkan tadi dihadapi dan ditangani dengan penuh keseksamaan bukan hal yang mustahil dapat membrikan pengaruh yang besar ke dalam tatanan kehidupan masyarakat luas, di mana munculnya ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai perkembangan dan penabahan disekelilingnya. berbagai upaya, Perpustakaan Desa Swarga Bara Yang Masih bernanung di bawah Badan Perpustakaan Arsip dan Daerah khususnya di bidang pendidikan dalam artian yang luas, sudah banyak dilaksanakan. Pemerintah dan lembaga – lembaga swasta telah banyak memunculkan program – program dalam berbagai bentuk, sifat dan tingkatan. Kesemuanya itu pada dasarnya merupakan upaya yang mengarah kepada peningkatan harkat dan martabat kehidupan masyarakat yang siap menghadapi segala hal perkembangan dan tantangan yang bakal mungkin terjadi di masa – masa yang akan datang.
Perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi menjadi tulang punggung gerak majunya suatu instuti, terutama institusi pendidikan, tempat tuntutan untuk adaptasi terhadap perkembangan informasi sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pengguna (user) dominan dari kalangan akademis yang kebutuhannya akan informasi begitu kuat sehingga mau tidak mau perpustakaan harus pula berfikir untuk berupaya mengembangkan diri guna memenuhi kebutuhan pengguna (user).
Perpustakaan seperti sebuah ‘’ permata “ yang hilang dan ditemukan. Dulu, perpustakaan telah ada bahkan jika ada sekolah, di situ perpustakaan berada. Akan tetapi, perpustakaan dulu hanya sebagai tempat buku saja, bahkan mungkin hanya sebagai pelengkap pendidikan saja. Tradisi di sekitar buku dan jurnal tercetak ini luar biasa tertanam dalam budaya masyarakat, yang membentuk sebuah ‘’ dunia teks ‘’ yang melandasi semua upaya manusia memperluas ilmu pengetahuannya. Beberapa dasawarsa terakhir ini, dunia teks mendapat tantangan dari teknologi – teknologi baru. Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perpustakaan pun ternyata tidak luput dari perhatian pemerintah yang selama ini me – nomorsekian-kan perpustakaan. Perpustakaan telah menemukan jati dirinya sebagai agen perubahan, tempat berbagai informasi disimpan, dan tempat embrio intektual diciptakan. Betapa tidak dulu perpustakaan yang dianggap sebgai tempat buku saja.
Perpustakaan menurut fungsinya memosisikan diri sebagai tempat yang menyediakan berbagai informasi, baik yang berkaitan dengan sosial, politik, maupun ekonomi, dan informasi lainnya. Di perguruan tinggi , perpustakaan sering diistilahkan sebagai ‘’ jantungnya perguruan tinggi “. Hal ini berarti perpustakaan memiliki peranan penting di dunia pendidikan. Jika jantungnya lemah, tubuh lainnya juga akan menjadi lemah. Ini artinya jika perpustakaan lemah, akan berpengaruh pula terhadap institusi tempat perpustakaan bernaung. Sebaliknya, jika jantungnya baik, akan membuat baik pula tubuhnya. Dengan demikian, jika perpustakaan baik, akan baik pula lembaga / intitusinya. Misalnya, perpustakaan dan lembaga pendidikan sekarang ini seperti dua sisi mata uang. Keduanya akan menjadi bernilai jika keduanya ada, demikian pula dengan informasinya. Perpustakaan dengan informasinya juga tidak boleh dipisahkan sebab kekuatan perpustakaan ada pada informasi yang disajikannya.
Dapat kita ketahui bahwa perpustakaan memiliki kaitan dengan lembaga pendidikan. Hubungan itu secara kasat mata dapat dilihat dari pendekatan kelembagaan. Sedangkan, baik perpustakaan dan lembaga pendidikan, keduanya memiliki tugas yang sama, yaitu menyebarkan informasi. Perbedaanya, lembaga pendidikan memberikan informasi kepada para siswa melalui proses pembelajaran dengan informasi yang mengacu kepada kurikulumnya. Sedangkan perpustkaan menyebarkan informasinya secara langsung kepada pemustaka tanpa terikat langsung oleh kurikulum.
Menyadari persoalan – persoalan yang telah disebutkan di atas, penulis dalam penelitian ini, memilih Perpustakaan Desa Swarga Bara . Perpustakaan Desa adalah sebuah Perpustakaan yang di dalamnya menyangkut tentang pendidikan dalam artian luas. Perpustakaan desa  ini terletak di daerah Swarga Bara jalan jalan Papa Charlie yang tempatnya sangat strategis dengan di kelilingi oleh perkantoran dan tidak jauh dari sekolahan. Pada dasarnya perpustakaan desa swarga tidak jauh berbeda dengan Badan Perpustakaan Arsip Daerah yang pada umumnya menyediakan koleksi koleksi buku yang menyangkut tentang pendidikan pada umumnya. Namun ada sedikit perbedaan dengan Badan Perpustakaan Arsip Daerah. Yakni jika di Badan Perpustakaan Arsip Daerah Mempunyai system yang lebih unggul di bandingkan dengan perpustakaan desa. Di Perpustakaan desa ini juga sering terdapat berbagai kegiatan yang dimana kegiatan ini selain untuk menarik perhatian masyarakat juga untuk meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak, yang ada di sekitar wilayah Perpustakaan Desa Swarga Bara. Dengan kreatif yang lengkap yang di miliki oleh Staff perpustakaan desa. Perpustakaan desa tidak kalah dengan Badan perpustakan arsip daerah.   
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “Efektivitas Perpustakaan Desa Dalam Mengembangkan Kecerdasan Intelektual di Desa Swarga Bara”.  
C.      Penegasan Istilah
            Untuk menghindari kesalahan penafsiran terhadap judul penelitian ini, maka penulis akan mengurai beberapa istilah yang terdapat pada judul peneltian ini. Dalam penelitian ini Efektifitas diartikan sebagai suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek dan akibat yang dikehendaki, kalau seseorang melakukan perbuatan dengan maksud tertentu yang memang di kehendakinya, maka perbuatan orang tersebut dikatakan efektif, kalau menimbulkan akibat atau mencapai tujuan maksud sebagaimana yang di kehendakinya.
            Sedangkan untuk pengertian Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain. Intelectual Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan.
            Jadi Efektifitas perpustakaan dan kecerdasan intelektual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah program program kerja perpustakaan dalam meningkatkan kecerdasan intelektual dalam masyarakat desa swarga bara.
D.      Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut : Bagaimanakah Efektifitas Perpustakaan Daerah dalam meningkatkan kecerdasan Intelektual Masyarakat di Desa Swarga Bara ?
E.  Tujuan Masalah
     Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah : Untuk mengetahui Bagaimanakah Efektifitas Perpustakaan Daerah dalam meningkatkan kecerdasan intelektual Masyrakat Desa Swarga Bara.
F.   Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoritis, yaitu: Mengetahui bagaimanakah efektifitas perpustakaan daerah  dalam pengembangan kecerdasan Masyarakat di swarga bara.
2.    Manfaat Praktis, yaitu: Sebagai bahan informasi dan referensi bagi masyarakat perpustakaan daerah didalam pengembangan perpustakaan.
G. Dasar Teori
1.    Pengertian Efektifitas
         Efektifitas suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek dan akibat yang dikehendaki, kalau seseorang melakukan perbuatan dengan maksud tertentu yang memang di kehendakinya, maka perbuatan orang tersebut dikatakan efektif, kalau menimbulkan akibat atau mencapai tujuan maksud sebagaimana yang di kehendakinya
2.    Pengertian perpustakaan
               Perpustakaan berasal berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pustaka artinya kitab, buku. Dalam bahasa inggris dikenal dengan library. Istilah ini berasal dari kata librer atau libri, yang artinya buku.
               Jadi pengertian perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku atau terbitan lainnya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual. Atau suatu unit kerja yang subtansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pengguna jasa lainnya[2].
Tugas dan Fungsi Perpustakaan:
a.    Tugas perpustakaan
Tugas perpustakaan secara garis besar terbagi atas 3 yakni:
1)   Tugas menghimpun informasi meliputi kegiatan mencari, menyeleksi, dan mengisi perpustakaan dengan sumber informasi yang memadai/lengkap baik dalam arti jumlah, jenis, maupun mutu yang disesuaikan dengan kebijakan organisasi, ketersediaan dana, dan keiginan pemakai serta mutakhir.
2)   Tugas mengelola, meliputi proses pengelohan, penyusunan, penyimpanan, dan pengemasan agar tersusun rapi, mudah ditelusuri kembali dan diakses oleh pemakai, serta merawat bahan pustaka.
3)   Tugas memberdayakan dan memberikan layanan secara optimal. Perpustakaan, sebagai pusat informasi yang menyimpan sebagai ilmu pengetahuan, memberikan layanan informasi yang ada untuk diberdayakan kepada masyarakat pengguna sehingga perpustakaan menjadi agen perkembangan ilmu pengetahuandan informasi, teknologi dan budaya masyarakat.
b.      Fungsi Perpustakaan
            Fungsi sebuah perpustakaan merupakan penjabaran lebih lanjut dari semua tugas perpustakaan. Fungsi perpustakaan tersebut, antara lain pendidikan dan pembelajaran, informasi, penelitian, reakreasi, dan preservasi. Fungsi-fungsi itu dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan perpustakaan.
            Sementara tujuan yang akan dicapai atas tugas dan fungsi perpustakaan secara singkat adalah terjadinya informasi dan transfer ilmu pengetahuan dari sumbernya di perpustakaan kepada pemakai. Hasilnya adalah terjadinya perubahan, baik dalam hal kemampuan, sikap, maupun keterampilan. Pendek kata, manusia-manusia yang dengan tekun belajar dan membaca di perpustakaan pada suatu ketika diharapkan dapat menjadi manusia-manusia yang menguasai informasi, pengetahuan, wawasan, berprilaku arif dan bijaksana, serta berpandangan jauh ke depan sehingga dalam mengambil keputusan lebih cepat. Sebab segala sesuatunya telah dipikirkan matang-matang didasarkan pada pertimbangan analisis ilmiah.[3]
            Selanjutnya, dalam perspektif keagamaanpun merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka.
3.     Pengertian kecerdasan intelektual
Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain. Intelectual Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari perancis pada awal abad ke 20. Kemudian Lewis ternman dari unuversitas stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal dengan test Stanford-Binet. Pada saat itu IQ dipahami sebagai pokok dari sebuah kecerdasan seseorang sehingga IQ dianggap menjadi tolak ukur keberhasilan dan prestasi hidup seseorang. Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan orang tersebut kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Kecerdasan intelektual merupkan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut.[4] Prakarsa kedua orang di atas menghasilkan test Stanford-Binet, yang digunakan untuk mengukur kecerdasan anak yang boleh masuk sekolah biasa atau sekolah luar biasa.
Dalam pandang Stanford-Binet- IQ dipandang sebagai berikut :
1.      Kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan tujuan tertentu, semakin cerdas seseorang, semakin cakaplah ia menentukan tujuan tersebut, dengan tidak mudah membelokkan tujuan tersebut.
2.      Kemampuan untuk menyelesaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
3.      Kemampuan untuk melakukan otokritik, yang terwujud dalam kemampuan untuk mencari kesalahan yang telah diperbuatnya dan memperbaiki kesalahan tersebut.
         IQ (Intelligence Quotient) adalah kemampuan atau kecerdasan yang didapat dari hasil pengerjaan soal-soal atau kemampuan untuk memecahkan sebuah pertanyaan dan selalu dikaitkan dengan hal akademik seseorang.
         Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak akan ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan, diolah dan diinformasikan kembali pada saat dibutuhkan. Proses dalam menerima, menyimpan dan mengolah kembali informasi biasa disebut “berfikir”. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan otak manusia.
Ada lima dimensi kemampuan intelektual, yaitu :
1.      Kognisi, yang merupakan operasi pokok intelektual dalam proses belajar,
2.      Mengingat merupakan proses mental primer untuk retensi atau menyimpan dan reproduksi segala sesuatu yang diketahui intelektual,
3.       Berfikir divirgen, yaitu operasinya  jelas mencakup potensi bakat kreatif, yang bertugas mencoba sesuatu,
4.      Berfikir konvergen, yaitu berfikir yang menghasilkan informasi dari informasi yang sudah ada, yang hasilnya ditentukan oleh respon yang diberikan,
5.      Evaluasi, yaitu kemampuan mencari keputusan atau mencari informasi dari kriteria yang memuaskan

H.      Kajian Penelitian yang Relevan
            Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, ada beberapa karya ilmiah atau skripsi yang juga membahas tentang efektivitas perpustakaan desa dalam mengembangkan kecerdasan intelektual, dan sekaligus menjadi alasan mengapa penelitian ini layak dan menarik untuk dilakukan:
1.      Jurmiah Noor (2010), dalam penelitiannya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Dalam Meningkatkan Minat Baca Mahasiswa STAIN Samarinda, menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi di perpustakaan dalam meningkatkan minat baca mahasiswa STAIN Samarinda yaitu kurangnya fasilitas berupa alat-alat audio visual dan computer internet. Alat-alat tersebut sangat penting digunakan bagi mahasiswa-mahasiswi di perpustakaan sebagai sumber untuk mendapatkan informasi.
2.   Suminem (2010), dalam penelitiannya yang berjudul, “ Peran Perpustakaan Sekolah Dalam Mengembangkan Minat Baca Siswa SDN 021 Samarinda Ulu, menyimpulkan bahwa siswa sudah memliki minat baca di perpustakaan tersebut tapi masih kategori cukup, karena perpustakaan yang ada di SDN Samarinda Ulu, masih memiliki kekurangan dikarenakan masalah dana pengelolah perpustakaan dari pihak sekolah.
3.   Dedi Arman (2012). Adapun penelitiannya yang berjudul “Hubungan antara Pelayanan Perpustakaan dengan Minat Baca Mahasiswa STAI Sangatta  Utara Kab. Kutai Timur. Menyimpulkan bahwa banyak Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta Kutai Timur berkunjung ke perpustakaan tapi karena tugas dari dosen bukan untuk meluangkan waktunya untuk membaca apabila ada jam kosong. Ini meruapakan masalah yang dihadapi oleh Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta Kutai Timur tentang minat bacanya. Dapat disimpulkan bahwa Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta Kutai Timur kurang memiliki minat baca.
             Adapun perbedaan dari penelitian sebelumnya dengan penelitian yang penulis teliti yaitu penelitian yang sebelumnya membahas tentang Problematika dan layanan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca sedangkan yang penulis teliti yaitu tentang efektivitas perpustakaan desa dalam mengembangkan kecerdasan intelektual di Desa Swarga Bara Sangatta Utara.
I.     Metode Penelitian
1.    Jenis dan Pendekatan Penelitian
  Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research). Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang berupaya mengangkat, menuturkan, dan menafsiran data dari fakta, keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi saat sekarang ketika penelitian berlangsung dan menyajikan apa adanya.[5]


2.Waktu dan tempat Penelitian
                 Penelitian ini di laksanakan selama 3 (tiga) bulan di mulai bulan Oktober -Desember 2015, bertempat di Jl.Papa Carly yang terletak di desa Swarga Bara Sangatta Utara.
3.Data dan Sumber Data
                 Dalam penemuan data ini terdapat 2 (dua) jenis data yang terkumpul oleh penulis antara lain:
a.    Data Primer, adalah data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran / alat pengambilan data langsung kepada subjek sebagai sumber informasi yang dicari.[6] Data primer yang diperoleh oleh peneliti adalah hasil wawancara dengan Koordinator Perpustakaan Desa di Desa Swarga Bara.
b.    Data Sekunder, adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya, biasanya diambil melalui dokumen atau melalui orang lain[7]. Sumber Data sekunder ini akan diperoleh di bagian Kearsipan dan Tata Usaha (TU) Perpustakaan Desa Swarga Bara.
4.    Teknik Pengumpulan Data
     Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode dalam pengumpula data, yaitu:

a.    Observasi
          Observasi yaitu studi yang sengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan.[8] Observasi dilakukan secara sistematis (berkerangka) mulai dari metode yang digunakan dalam observasi sampai cara-cara pencatatannya.[9]
          Dalam hal ini yang diobservasi adalah mengenai efektivitas perpustakaan desa dan langkah-langkah dalam meningkatkan kecerdasan intelektual.
b.    Wawancara
       Wawancara yaitu metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan sistematis yang berlandaskan tujuan penelitian[10].Wawancara adalah metode pengumpulan data yang digunakan penelitian untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui komunikasi langsung dengan subjek penelitian, baik dalam situasi sebenarnya ataupun dalam situasi buatan[11]. Yang berguna untuk melengkapi motode observasi lapangan. Sedangkan data-data yang tidak diperoleh dari wawancara dalam teknik ini digunakan teknik wawancara mendalam tanpa struktur. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan petanyaan dan interviewe yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu[12].
          Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi yang mendukung untuk penelitian ini, wawancara dilakukan kepada Salah Satu Pegawai Perpustakaan.
c.         Dokumentasi
                 Dokumentasi yaitu mencari data menagenai hal-hal yang berupa catatan, buku, transkip, surat kabar, ledger, agenda dan sebagainya.[13] Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang bersumber pada dokumen atau catatan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.[14]
                 Metode dokumentasi diperlukan sebagai metode pendukung untuk mendapatkan data, karena dalam metode dokumentasi ini dapat diperoleh data-data historis dan dokumen lain yang relevan dengan penelitian ini.[15]Adapun metode ini digunakan penulis untuk memperoleh data-data tentang dokumentasi seperti: data sejarah Perpustakaan Desa, agenda kerja Pegawai Perpustakaan Desa Swarga Bara.

DOWNLOAD
Silahkan download link diatas untuk membaca secara lengkap tentang contoh proposal, yang berjudul Efektifitas Perpustakaan Desa Dalam Mengembangkan Keceradasan Intelektual Masyrakat Swarga Bara.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔