Ragam Bahasa Indonesia Keilmuan

1:16:00 AM
Ragam Bahasa Indonesia Keilmuan

RAGAM BAHASA INDONESIA KEILMUAN

Bahasa Indonesia Keilmuan (BIK) merupakan ragam bahasa yang memiliki ciri-ciri khusus. Ciri-cirinya yang khusus itu tertebar pada berbagai aspek sebagaimana diuraikan berikut ini.

A.  Cendekia
Bahasa Indonesia keilmuan (BIK) bersifat cendekia dengan pengertian bahwa BIK mampu digunakan untuk mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat , membentuk pernyataan yang tepat, seksama, dan abstrak. Kalimat-kalimatnya mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Jika sebuah kalimat untuk mengungkapkan dua buah, dan masing-masing gagasan itu memiliki hubungan kausalitas, dua proposisi beserta hubungannya itu harus tampil secara jelas dalam kalimat. 


Sebagaimana tampak pada contoh berikut.

(1)  Pada era globalisasi informasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama karena pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia.
(2)  Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengaruh budaya barat yang masuk ke negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.

Kadang-kadang perbedaan kecermatan pikiran pada kedua kalimat begitu sedikit sebagaimana tampak pada tiga contoh berikut.
(1)  Pergeseran nilai-nilai budaya bangsa terjadi karena pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia.
(2)  Terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya bangsa disebabkan oleh pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia.
(3)  Terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya bangsa karena pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia.
Contoh (1) dan (2) mengikuti pola proposisi. Disamping mengandung keterangan, kedua kalimat itu mengandung pokok dan sebutan. Kalimat (3) tidak mengikuti pola proposisi karena tidak mengandung sebutan. Kalimat (3) itu hanya mengandung  pokok dan keterangan. Di samping itu terdapat perbedaan gagasan yang terungkap dalam kalimat (1) dan (2). Perihal pokok yang terungkap dalam kalimat (1) adalah pergeseran nilai-nilai budaya bangsa, sedangkan yang terungkap dalam kalimat (2) adalah terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya bangsa. Perihal pokok pada kalimat (1) diungkapkan segi terjadinya, sedangkan pada kalimat (2) diungkapkan segi sebabnya. Segi-segi redaksi pengungkapan yang mampu menunjukkan perbedaan-perbedaan itu merupakan hal yang perlu ada dalam BIK.
Kecendekiaan juga tampak pada ketepatan dan kesaksamaan penggunaan kata. Dalam bahasa Indonesia terdapat perbedaan antara bentukan pe(N)-an dan bentukan -an. Penggunaan kata dua bentukan itu tentu saja berbeda. Dalam laporan penelitian, misalnya, jika substansi yang ditampilkan adalah “kegiatan proses memerikan”, kata yang digunakan adalah pemerian. Jika substansi yang ditampilkan adalah “hasil memerikan”, kata yang digunakan adalah perian. Dengan cara demikian, dapat pula dibedakan penggunaan kata pembahasan dan bahasan atau pemberian dan berian.

B.  Lugas dan Jelas

BIK digunakan untuk menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat. Hal itu dapat direalisasikan jika setiap gagasan diungkapkan secara langsung. Makna yang diungkapkan dalam BIK adalah adalah makna lugas. Pengungkapan secara kias tidak dibenarkan. Perhatikan kalimat (3) dan (4) berikut!
(4)  Para pendidik yang kadangkala atau bahkan sering kena getahnya oleh ulah sebagian anak-anak mempunyai tugas yang tidak ringan. (gagasan tidak bermakna lugas)
(5)  Para pendidik yang kadang-kadang atau bahkan sering terkena akibat ulah sebagian anak-anak mempunyai tugas yang berat. (gagasan diungkapkan secara langsung)

Kalimat (4) tidak bermakna lugas. Ungkapan kena getahnya dan tidak ringan merupakan ungkapan yang tidak mampu mengungkapkan makna secara langsung. Kedua ungkapan itu masing-masing dapat diganti terkena akibat dan berat sebagaimana tampak pada kalimat (5). Pada kalimat (5) gagasan telah diungkapkan secara langsung.
Di samping kelugasan, aspek lain yang perlu dimiliki BIK adalah kejelasan. BIK berfungsi sebagai alat pengungkapan gagasan keilmuan secara jelas. Agar gagasan yang diungkapkan jelas, bahasa yang digunakan juga harus jelas. Bahasa yang jelas itu tidak hanya membantu penulis mengungkapkan gagasannya secara jelas, tetapi juga membantu pembaca untuk menangkap gagasan penulis secara jelas pula. Karena itu, pembaca akan lebih mudah memahami gagasan yang diungkapkan dengan bahasa yang jelas daripada memahami gagasan yang diungkapkan dengan bahasa yang tidak jelas. Dengan kalimat (6) gagasan tidak dapat diungkapkan  secara jelas, sedangkan dengan kalimat (7) gagasan dapat diungkapkan secara jelas.
(6)  Penanaman moral di sekolah sebenarnya merupakan kelanjutan dari penanaman moral di rumah yang dilaksanakan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang merupakan mata pelajaran yang paling strategis karena langsung menyinggung tentang moral Pancasila, juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan Kesenian. (gagasan tidak jelas)
(7)  Penanaman moral di sekolah merupakan kelanjutan penanaman moral di rumah. Penanaman moral di sekolah dilaksanakan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang merupakan mata pelajaran yang paling strategis karena langsung menyangkut moral Pancasila. Di samping itu, Penanaman moral Pancasila juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan Kesenian. (gagasan jelas)

Gagasan pada kalimat (6) tidak terungkap secara jelas karena kalimat sebagai alat pengungkap gagasan merupakan kalimat yang tidak jelas, kalimatnya berbelit-belit. Akibatnya, satuan-satuan informasi yang terkandung dalam kalimat juga tidak tertata secara teratur. Sebaliknya, gagasan pada contoh (7) terungkap secara jelas karena kalimat-kalimat pengungkap gagasan itu, merupakan kalimat-kalimat yang jelas. Satuan-satuan informasi yang terkandung dalam setiap kalimat tertata secara teratur. Hubungan antarkalimat pada contoh (7) itu juga terjalin secara teratur sehingga keutuhan gagasan yang diungkapkan dengan kalimat-kalimat itu juga dapat terwujud secara jelas.
Untuk mewujudkan bahasa yang jelas diperlukan kiat khusus. Gagasan yang akan dituangkan dalam teks perlu ditata secara sistematis. Dengan tataan yang sistematis dapat ditentukan apakah sebuah gagasan dituangkan dengan satu kalimat atau dengan sejumlah kalimat. Jika sebuah gagasan cukup dituangkan dengan satu kalimat, tidak perlu gagasan itu diungkapkan dengan sejumlah kalimat. Sebaliknya, jika sebuah gagasan tidak cukup diungkapkan dengan satu kalimat, gagasan itu perlu diungkapkan dengan sejumlah kalimat. Contoh (6) di atas berisi gagasan yang tidak dapat diungkapkan dengan sebuah kalimat, gagasan itu perlu perlu diungkapkan dengan sejumlah kalimat sebagaimana tampak pada contoh (7).
Contoh (8) berikut merupakan contoh pengungkapan gagasan dengan dua buah kalimat secara salah. Gagasan pada contoh itu dapat diungkapkan dengan sebuah kalimat sebagaimana tampak pada contoh (9).
(8)  Kalau pada zaman Kalijaga kesenian wayang termasuk dalam ceritanya digunakan sebagai media penyebaran agama. Maka di masa sekarang lebih tepat apabila penanaman budi pekerti dalam cerita wayang melalui pengajaran apresiasi. (pengungkapan gagasan dengan dua buah kalimat secara salah)
(9)  Kalau pada zaman Kalijaga kesenian wayang, termasuk dalam ceritanya, digunakan sebagai media penyebaran agama, sekarang kesenian wayang itu digunakan sebagai media penanaman budi pekerti melalui apresiasi. (gagasan diungkapkan dengan sebuah kalimat)

C.  Gagasan Sebagai Pangkal Tolak

            BIK digunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti bahwa penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis. Akibatnya, pilihan bentuk kalimat yang beroposisi, yakni kalimat pasif yang berorientasi pada gagasan dan kalimat aktif yang berorientasi pada penulis, jatuh pada kalimat pasif. Kalimat aktif dengan penulis sebagai pelaku perlu dihindari. Contoh (10) dan (11) berikut masing-masing berorientasi kepada penulis dan gagasan.
(11)        Dari uraian tadi penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam menumbuhkan dan membina anak berbakat guru diharapkan bisa        memberikan motivasi dan layanan kepada anak yang jenius dan         cekatan. (berorientasi kepada penulis)

(12)        Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa dalam menumbuhkan      dan membina anak berbakat guru diharapkan bisa memberikan motivasi dan layanan kepada anak yang jenius dan cekatan.         (berorientasi kepada gagasan)
Orientasi pelaku yang bukan penulis yang tidak berorientasi pada gagasan perlu pula dihindari. Contoh (13) berorientasi kepada pelaku yang bukan penulis, sedangkan contoh (14) berorientasi pada gagasan.
(13)        Kita tahu bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting             dalam penanaman moral Pancasila. (berorientasi kepada pelaku          yang bukan penulis)
(14)        Perlu diketahui bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat     penting dalam penanaman moral Pancasila. (berorientasi kepada         gagasan)
Dengan uraian di atas bukan berarti bahwa dalam BIK tidak dapat digunakan kalimat aktif. Kalimat aktif dapat digunakan selama pelaku dalam kalimat aktif itu merupakan realisasi orientasi gagasan sebagaimana tampak pada contoh berikut.
(15)       Tarigan (1990) juga berpendapat bahwa pengajaran berbicara           dilaksanakan secara implisit, dikaitkan, digandengkan, atau      ditumpangkan pada pokok bahasan membaca, kosa kata, struktur,        pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.  (pelaku   merupakan realisasi orientasi gagasan)
(16)       Sejalan dengan itu, Akhadiah (1992) mengungkapkan pendapatnya             bahwa guru tidak hanya memiliki wawasan atau bekal ilmu yang     luas serta mampu menyusun bahan pembelajaran sesuai dengan         Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), tetapi juga menguasai strategi dan teknik dalam pencapaian tujuan pengajarannya. (pelaku merupakan realisasi orientasi gagasan)

D.  Formal dan Objektif

Komunikasi ilmiah melalui teks ilmiah merupakan komunikasi formal. Bahasa Indonesia yang digunakan dalam komunikasi ilmiah berciri formal. Hal itu berarti bahwa unsur bahasa Indonesia yang digunakan dalam BIK adalah unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi. Ciri formal itu tampak pada berbagai lapis unsur bahasa: kosa kata bentukan kata, dan bentukan kalimat. Pada lapis kosa kata dapat ditemukan kata-kata yang berciri informal sebagaimana tampak pada daftar berikut.
Ciri formal juga ditampakkan pada unsur bentukan kata. Bentukan kata tertentu manandai ciri formal, sementara bentukan kata yang lain menandai ciri informal sebagaimana tampak pada contoh-contoh berikut.
Bentukan kata berciri formal
Bentukan kata berciri informal
Bercerita
cerita
Berdagang
dagang
Bersedih
sedih
Bernyanyi
nyanyi
Mencuci
nyuci
Melarang
ngelarang
Membantah
mbantah
Tertabrak
ketabrak
Terjatuh
jatuh
Terbentur
kebentur
Bertabrakan
tabrakan

Kalimat yang berciri formal ditandai dengan beberapa ciri. Ciri pertama adalah kelengkapan unsur wajib sehingga memenuhi kelengkapan isi proposisi. Kalimat (17) beikut memenuhi persyaratan kelengkapan itu, sedangkan kalimat (18) tidak.
(17)       Moeliono (1989) menyatakan bahwa bahasa Indonesia itu lugas       dan eksak serta menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam    pengungkapan. (memenuhi persyaratan kelengkapan)
(18)       Menurut Moeliono (1989) menyatakan bahwa bahasa Indonesia itu             lugas dan eksak serta menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam       pengungkapan. (tidak memenuhi persyaratan kelengkapan)
Ciri kedua adalah ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas, yaitu kata yang berfungsi atau bertugas menandai fungsi dan hubungan unsur kalimat.
Kata fungsi pada contoh (19) (23) digunakan secara tidak tepat, sedangkan pada contoh (24) ─ (27) digunakan secara tepat.

(19)       Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian pada         masyarakat
(20)       Penggunaan urea tablet ternyata lebih hemat dari urea tabur.
(21)       Buat petani daerah ini, saluran irigasi merupakan prasarana   pertanian yang sangat berarti.
(22)       Di lembaga di mana tempat mahasiswa dididik tersedia fasilitas      yang cukup guna meningkatkan prestasi mahasiswa.
(23)       Gedung-gedung yang mana akan direnovasi masih digunakan         untuk kegiatan akademik.
(24)       Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada      masyarakat.
(25)       Penggunaan urea tablet ternyata lebih hemat daripada urea tabur.
(26)       Bagi petani daerah ini, saluran irigasi merupakan prasarana   pertanian yang sangat berarti.
(27)       Di lembaga tempat mahasiswa dididik tersedia fasilitas yang cukup             untuk meningkatkan prestasi mahasiswa.
(28)       Gedung-gedung yang akan direnovasi masih digunakan untuk         kegiatan akademik.
Ciri ketiga adalah isinya yang mantiki. Kalimat yang berciri formal berfungsi sebagai alat pengungkap penalaran. Kalimat yang mampu berfungsi sebagai alat pengungkap penalaran itu disebut kalimat bernalar. Berbeda dengan kalimat (29), kalimat (30) berikut telah mengungkapkan penalaran yang benar.
(29)       Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan pokok bahasan lain, yaitu seperti pada membaca, kosa kata, struktur,       pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
(30)       Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan kedudukan     pengajaran yang lain: membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Ciri keempat adalah tampilan esei formal. Ciri itu menuntut pengungkapan gagasan secara utuh dalam bentuk kalimat. Potongan-potongan gagasan dalam kalimat dintegrasikan secara langsung dalam kalimat. Kalimat contoh (31) merupakan tampilan esei nonformal, sedangkan kalimat contoh (32) merupakan tampilan esei formal.
(31)       Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan:
            -fabel
            -legende
            -mite
            -sage
            -penggeli hati
(32)       Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas lima kategori,     yakni fabel, legende, mite, sage, dan penggeli hati.

Tampilan pada esei formal tidak hanya ditampakkan pada tataran unsur-unsur kalimat, tetapi juga ditampakkan pada penempatan kalimat dalam konteks kalimat-kalimat yang lain dalam rangka membentuk teks. Tampilan kalimat (33) bukan tampilan esei formal, sedangkan tampilan kalimat (34) adalah tampilan esei formal.
(33)       Dongeng berdasarkan sisinya dapat dibedakan atas fabel, legende, mite, sage, dan penggeli.
       Fabel adalah cerita tentang binatang yang dapat berkata-kata dan    berpikir seperti manusia.
       Legende adalah cerita yang berhubungan dengan keajaiban alam.
       Mite adalah cerita tentang dewa-dewi atau cerita yang         berhubungan dengan kepercayaan.
       Sage adalah cerita yang berisi kiasan atau ibarat yang di dalamnya   terkandung ajaran hidup.
       Penggeli adalah cerita yang mengandung kelucuan-kelucuan atau    perbuatan yang menggelikan.

(34)       Dongeng berdasarkan sisinya dapat dibedakan atas lima kategori,    yakni  fabel, legende, mite, sage, dan penggeli. Fabel adalah cerita     tentang binatang yang dapat berkata-kata dan berpikir seperti        manusia. Legende adalah cerita yang berhubungan dengan   keajaiban alam. Mite adalah cerita tentang dewa-dewi atau cerita         yang berhubungan dengan kepercayaan. Sage adalah cerita yang           berisi kiasan atau ibarat yang di dalamnya terkandung ajaran            hidup. Penggeli adalah cerita yang mengandung kelucuan-kelucuan         atau perbuatan yang menggelikan.
BIK merupakan alat pengungkapan perasaan yang objektif. Sejalan dengan fungsinya itu, BIK bersifat objektif. Demi sifatnya yang objektif itu pula BIK menggunakan gagasan sebagai pangkal tolak agar sudut pengungkapan secara dominan bertolak dari perihal (objek) yang sedang dibicarakan. Pengungkapan yang demikian itu menghasilkan paparan yang objektif.
Terwujudnya ciri objektif BIK tidak cukup dengan hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Ciri objektif itu dapat diwujudkan dengan penggunaan kata dan struktur. Kata-kata yang menunjukkan ciri subjektif/ emosional tidak digunakan. Hadirnya kata alangkah dan kiranya pada contoh (35) dan (36) berikut telah menimbulkan ciri subjektif/emosional. Ciri subjektif/emosional itu tidak ada pada contoh kalimat (37) dan (38).
(35)       Contoh-contoh itu telah memberikan bukti alangkah besarnya         peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak. (kata       alangkah menimbulkan ciri emosional)
(36)       Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa pengajaran      berbicara di sekolah dasar tidak terpancang pada salah satu metode.             (kata kiranya menimbulkan ciri emosional)
(37)       Contoh-contoh itu telah memberikan bukti besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
(38)       Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran berbicara   di sekolah dasar tidak terpancang pada salah satu metode.

Kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrem, seperti harus, wajib, pasti, dapat memberikan kesan emosional. Karena itu, kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrem itu perlu dihindari. Contoh (1) dan (2) berikut masing-masing berciri subjektif/emosional dan objektif/rasional.
(39)       Di antara etika yang harus ditanamkan kepada anak adalah mengambil makan dan minum dengan memakai tangan kanan,     membaca basmalah untuk memulai pekerjaan yang baik dan        alhamdulillah untuk mengakhiri pekerjaan yang baik pula.    (subjektif/emosional).
(40)       Di antara etika yang ditanamkan kepada anak adalah mengambil     makan dan minum dengan memakai tangan kanan, membaca basmalah untuk memulai pekerjaan yang baik dan alhamdulillah        untuk mengakhiri pekerjaan yang baik pula. (objektif/rasional)

E.  Ringkas dan Padat
BIK berciri ringkas dan padat. Ciri ringkas direalisasikan dengan tidak adanya unsur bahasa yang tidak diperlukan. Dengan kata lain, pemakaian unsur bahasa dalam BIK itu dilakukan secara hemat. Dengan cirinya yang ringkas itu, diupayakan tidak terjadi pemborosan penggunaan unsur bahasa. Unsur-unsur yang tidak diperlukan karena tidak fungsional dari segi pengungkap gagasan tidak digunakan. Unsur bercetak miring pada contoh (41) dan (42) berikut merupakan unsur yang dapat dihilangkan begitu saja sehingga terwujud kalimat (44) dan (45) sebagai kalimat yang ringkas.
(41)       Nilai etis tersebut di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan     hidup bagi setiap warga negara Indonesia.
(42)       Pendidikan agama di sekolah dasar tidak akan terlaksana dengan    baik tanpa adanya dukungan dari orang tua dalam keluarga.
(43)       Nilai etis tersebut menjadi pedoman hidup bagi setiap warga            negara Indonesia.
(44)       Pendidikan agama di sekolah dasar tidak akan terlaksana dengan    baik tanpa dukungan dari orang tua.
Ciri ringkas berkenaan dengan penggunaan unsur bahasa. Jika penggunaan unsur bahasa itu sudah ringkas, kandungan gagasan yang diungkapkan dengan unsur bahasa itu menjadi padat. Jadi, ciri padat berkenaan dengan kepadatan gagasan yang terungkap. Jika gagasan yang terungkap sudah memadai, dengan unsur bahasa yang terbatas tanpa pemborosan, ciri kepadatan sudah terpenuhi. Karena itulah ciri padat dan ringkas merupakan dua ciri yang tidak dapat dipisahkan.
Perwujudan keringkasan dan kepadatan tidak hanya ditandai oleh penggunaan unsur-unsur bahasa dalam kalimat. Kalimat atau paragraf tertentu dapat dihilangkan jika tidak diperlukan. Kalimat (46) dalam teks berikut dapat dihilangkan begitu saja tanpa menggangggu pengungkapan gagasan
(45)       Berdasarkan pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan   Pembangunan (BPKP) terungkap bahwa proyek itu telah      dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Jadi, tidak ada        pelaksanaan proyek yang menyalahi aturan. Isu negatif yang            selama ini berkembang tidak benar.
(46)      Berdasarkan pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan   Pembangunan (BPKP) terungkap bahwa proyek itu telah      dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Isu negatif yang       selama ini berkembang tidak benar.
F.   Konsisten
Unsur-unsur bahasa, ejaan, dan tanda baca dalam BIK digunakan secara konsisten. Sekali sebuah unsur digunakan sesuai dengan kaidah, unsur itu untuk selanjutnya digunakan secara konsisten sesuai dengan penggunaannya itu. Contohnya adalah kata tugas untuk dan bagi yang digunakan dengan kaidah berikut: kata untuk digunakan sebagai pengantar keterangan tujuan, sedangkan kata bagi digunakan sebagai objek pengantar berkepentingan. Dengan prinsip itu, penggunaan untuk dan bagi pada kalimat (47) dan (48) konsisten, sedangkan pada (49) dan (50) tidak konsisten (diukur dari kaidah yang diberlakukan).
(47)       Untuk mengatasi penumpang yang melimpah menjelang dan usai     lebaran, pengusaha angkutan diimbau mengoperasikan semua            kendaraan ekstra.
(48)      Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Bagi mereka yang penting adalah pencabutan embargo         persenjataan.
(49)      Untuk penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran,         telah disiapkan kendaraan yang cukup. Pengusaha angkutan             diimbau mengoperasikan semua kendaraan ekstra.
(50)      Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting untuk            muslim Bosnia. Untuk mereka yang penting adalah pencabutan embargo persenjataan.
Istilah-istilah juga digunakan secara konsisten. Istilah bedah bermakna sama dengan operasi. Akan tetapi, sekali digunakan kata bedah dalam sebuah teks, istilah itu digunakan selanjutnya dalam teks yang bersangkutan. Demikian juga penggunaan unsur bahasa yang disingkat. Kalau pada penyebutan Bahasa Indonesia Keilmuan sudah disingkat dengan BIK, singkatan BIK itulah yang berlaku selanjutnya dalam teks itu.

G.  Pengunaan Istilah Teknis

BIK digunakan dalam wacana teknis. Wacana teknis itu digunakan dalam bidang keilmuan tertentu. Sesuai dengan penggunaan itu, BIK digunakan dengan kelengkapan peristilahan teknis. Wacana tertentu dilengkapi dengan istilah-istilah teknis sesuai dengan bidang yang diungkapkan. Dalam bidang keuangan, misalnya, dijumpai istilah-istilah  debitur, kreditur, suku bunga, moneter, rupiah murni, dana hangus, dan lain-lain.
Dalam bidang medis dijumpai istilah-istilah anestesi, sesar, urine, katarak, asma, tuberkulose, dan lain-lain.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔